TETESAN OKSITOSIN PADA PERSALINAN

Juni 29, 2007

Tetesan oksitosin pada persalinan adalah pemberian oksitosin secara tetes melalui infus dengan tujuan menimbulkan atau memperkuat his. (1)

Indikasi pemberian oksitosin : (1)
1. Mengakhiri kehamilan.
2. Memperkuat kontraksi rahim selama persalinan.

Kontraindikasi pemberian oksitosin : induksi persalinan.

Cara pemberian oksitosin :
1. Oksitosin tidak diberikan secara oral karena dirusak di dalam lambung oleh
    tripsin.
2. Oksitosin diberikan secara bucal, nasal spray, intramuskuler, dan intravena. (2,3)
3. Pemberian oksitosin secara intravena (drips/tetesan) banyak digunakan karena
    uterus dirangsang sedikit demi sedikit secara kontinyu dan bila perlu infus dapat
    dihentikan segera.
4. Pemberian tetesan oksitosin harus dibawah pengawasan yang cermat dengan
    pengamatan pada his dan denyut jantung janin.

Cara pemberian oksitosin dengan janin hidup : (4)
1. 5 IU oksitosin dalam 500 ml dekstrose 5%. Ini berarti 2 tetesan mengandung 1
    mIU.
2. Dosis awal 1-2 mIU (2-4 tetes) per menit.
3. Dosis dinaikkan 2 mIU (4 tetes) per menit setiap 30 menit.
4. Dosis maksimal 20-40 mIU (40-80 tetes) per menit.

Untuk meningkatkan keberhasilannya bisa dilakukan amniotomi, striping of the membrane atau menggunakan balon kateter.

Cara pemberian oksitosin dengan janin mati : (5)

Teknik I :
1. Menggunakan 500 cc ringer laktat (1 botol).
2. Mula-mula dipakai 10 IU oksitosin dalam 500 cc ringer laktat.
3. Kecepatan tetesan 20 tetes per menit.
4. Bila tidak timbul kontraksi yang adekuat, dosis dinaikkan 10 IU tiap 30 menit
    tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi yang adekuat dan
    ini dipertahankan.
5. Dosis tertinggi yang dipakai 140 IU.
6. Bila dengan jumlah cairan tersebut (500 cc ringer laktat) tidak berhasil maka
    induksi dianggap gagal.

Teknik II :

Botol I:
1. Mulai dosis 10 IU oksitosin dalam 500 cc ringer laktat.
2. Kecepatan 20 tetes per menit.
3. Bila tidak timbul kontraksi adekuat maka dosis dinaikkan 10 IU setiap habis 100
    CC tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi yang adekuat
    dan ini dipertahankan.
4. Dosis tertinggi yang dipakai dalam botol I 50 IU oksitosin. Bila belum timbul
    kontraksi adekuat, langsung dilanjutkan dengan botol II.

Botol II :
1. Mulai dengan dosis 50 IU oksitosin dalam 500 cc ringer laktat.
2. Bila belum timbul kontraksi adekuat maka dosis dinaikkan 20 IU setiap habis
    100 cc tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi yang
    adekuat dan ini dipertahankan.
3. Dosis tertinggi yang dipakai dalam botol II adalah 130 IU oksitosin. Bila setelah
    ke-2 botol tersebut kontraksi belum adekuat, induksi dianggap gagal.

Untuk meningkatkan keberhasilan maka dianjurkan :
1. Pemasangan laminaria sebelumnya (dilatasi serviks).
2. Melakukan amniotomi (bila memungkinkan).

Bila gagal, penderita diistirahatkan dan induksi diulangi lagi keesokan harinya.

Tetesan oksitosin dosis rendah : persiapan maupun cara pemberian sama dengan tetesan oksitosin dosis tinggi (teknik I), hanya disini dimulai dengan dosis oksitosin 5 IU dan bila tidak timbul kontraksi yang adekuat, dosis dinaikkan 5 IU setiap 30 menit, maksimal 70 IU.

Bila ditemukan water intoxication dengan gejala-gejala seperti kebingungan, stuporous, kejang dan koma maka tindakan-tindakannya :
– Tetesan segera dihentikan.
– Mengusahakan diuresis secepat dan sebanyaak mungkin.

Sebelum melakukan pemberian tetesan oksitosin terutama pada janin mati perlu dilakukan pemeriksaan proses pembekuan darah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: