Menunggu Bayi Tabung Pertama

Juni 28, 2007

Seperti Ny. Yuli, keinginan pasangan suami istri (pasutri) memiliki anak tak selamanya berjalan mulus. Infertilitas menjadi salah satu penyebab pasutri mengalami kesulitan untuk memiliki anak.

Kasus infertilitas baik di dunia maupun di Indonesia diperkirakan mencapai angka 15% dari pasangan usia reproduksi (15-40 tahun). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka 80 juta pasangan di negara berkembang yang mengalami gangguan kesuburan. Di Jawa Barat, jumlahnya diperkirakan 10% dari angka pasangan usia subur.

Infertilitas bisa terjadi akibat gangguan dari pihak suami, istri dan gabungan keduanya. Dokter Nanang W. Astarto, Sp.O.G. mengatakan kasus infertilitas 30% disebabkan faktor suami, 50% istri dan 20% gabungan.

Faktor penyebab gangguan kesuburan dari pihak suami bisa timbul karena gangguan pada testis misalnya kelainan jumlah, gerakan, dan bentuk sperma. Masalah ereksi dan ejakulasi, saluran sperma tersumbat, pernah menjalani vasektomi atau terdapat antibodi anti sperma juga menjadi penyebab.

Sementara penyebab infertilitas dari pihak istri antara lain endometriosis dan radang atau infeksi pada organ reproduksi; saluran telur (tuba) tersumbat; gangguan ovulasi; rahim tidak normal, antibodi anti sperma pada tubuh ibu atau radang panggul.

Faktor penting lainnya adalah usia. Rasio kemungkinan hamil sampai usia ibu 34 tahun adalah 90%, usia 40 tahun 67% dan di atas 45 tahun menjadi hanya 15%. “Itu adalah rasio pada keadaan normal. Artinya, rasio tersebut terus menurun jika ada faktor penyulit,” ujar dr. Tono Djuwantono, Sp.O.G.

Infertilitas memang tak selalu dapat diketahui penyebabnya. Tak sedikit pula pasangan yang dinyatakan normal, tak kunjung memiliki keturunan.

Salah seorang peserta program bayi tabung, Ny. Yuli Setiawati mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan putra dari pernikahannya pada 1999. “Dari pemeriksaan dokter, memang ada berbagai kendala, baik itu dari saya maupun suami,” katanya.

Gangguan kesuburan telah lama mendapatkan perhatian khusus dunia kedokteran. Berbagai teknik diteliti dan dikembangkan, termasuk inseminasi buatan hingga teknik bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Terdapat dua teknik bayi tabung yang berkembang, yaitu metode konvensional dan injeksi sperma intra sitoplasma (Intra Cytoplasmic Sperm Injection/ICSI).

Berita baiknya, kedua teknik ini, sudah bisa diterapkan di Klinik Fertilitas Aster RSHS. Ini cukup menjanjikan bagi sekira 540.000 sampai 816.000 pasangan suami istri yang memiliki problem kesuburan di Jawa Barat. Mereka tak lagi harus terbang ke Jakarta apalagi Singapura untuk mengatasi problematika infertilitasnya.

Pengembangan teknik bayi tabung di Bandung memang tidak main-main. Persiapan sarana, teknologi dan SDM sudah dimulai sejak 1995. Gayung bersambut ketika Jepang memberikan loan (pinjaman) untuk membangun gedung –yang kini dikenal sebagai gedung baru–beserta fasilitas di dalamnya. Dari sinilah pelayanan dimulai sampai digelarnya metode bayi tabung 19 Mei 2005 lalu.

Peminat program bayi tabung di Klinik Aster terbilang tinggi. Pasutri yang mendambakan bayi dari rahimnya sendiri bahkan rela antre dan berada pada daftar tunggu. “Bayi tabung merupakan teknologi pamungkas bagi pasangan yang mengalami infertilitas,” ujar dr. Tono yang menjadi salah satu dokter ahli fertilitas di klinik tersebut.

Anggota Tim Klinik Fertilitas Aster lainnya adalah dr. Nanang W. Astarto, Sp.O.G. (K), MARS, dr. Duddy S. Nataprawira, Sp.O.G (K), dr. Tono Djuwantono, Sp.O.G. (K) MARS, dr. Wiryawan Permadi, Sp.O.G. (K), dr. Tita, Sp.O.G. (K), dr. Herman Wibisono, Sp.And dan embriologis, Drs. Harris Herlianto.

Sebagai langkah pembuka pemahaman mengenai program bayi tabung, Klinik Aster mengadakan kelas fertilitas setiap bulan bagi para calon peserta program. Calon peserta diberikan konseling khusus mengenai program bayi tabung, prosedur, biaya, kemungkinan keberhasilan atau kegagalan serta komplikasinya, siap biaya serta siap hamil, melahirkan dan memelihara bayinya.

Tahapan ini dilanjutkan dengan “berburu” sperma dan sel telur untuk dievaluasi kualitasnya. Hanya sperma dan sel telur berkualitas baik dan excellent yang akan digunakan.

Jika pembuahan berlangsung sukses, embrio disimpan dalam inkubator selama 2-3 hari sampai sel-sel embrio berkembang biak. Embrio berkualitas excellent ditransfer dengan cara dimasukkan dalam serviks (leher rahim). “Proses ini biasanya memakan waktu 10 hingga 20 menit diikuti rehat selama satu jam dalam keadaan berbaring,” ujar dr. Wiryawan.

Sebagai bantuan agar embrio melekat pada rahim ibu, menurut embriologis Drs. Harris Harlianto, dapat ditambahkan embryo glue alias lem embrio. “Itu untuk mempermudah proses implantasi,” tuturnya.

Seperti teknologi reproduksi buatan lainnya, program bayi tabung pun tak menjanjikan 100% kehamilan. Pada calon ibu dengan usia kurang dari 39 tahun, tingkat keberhasilannya sekira 30%. Angka tersebut menurun pada usia lebih tua.

Kemungkinan kegagalan tercantum sebagai salah satu klausul persetujuan. Beberapa faktor diketahui dapat menyebabkan kegagalan kehamilan dalam program ini antara lain gagal memperoleh sel telur karena folikel yang berisi sel telur tidak berkembang sewaktu distimulasi, terjadi ovulasi secara prematur atau kesulitan teknis sewaktu ovum pick up.

Kegagalan lainnya, sel telur hasil pick up tidak normal, tidak memperoleh sperma yang dibutuhkan, tidak diperoleh fertilisasi, embrio tidak membelah atau membelah secara abnormal, embrio transfer sulit dilakukan atau tidak memungkinkan, embrio gagal berkembang setelah ditransfer atau implantasi gagal terjadi.

“Artinya, kemungkinan kegagalan bisa berlangsung dalam tahapan mana pun. Oleh karena itu, keseluruhan proses harus dilakukan secara sempurna,” imbuh dr. Tono.

Kesempurnaan tentunya pantas diharapkan mengingat biaya untuk menjalani program bayi tabung masih terbilang tinggi. Di Klinik Fertilitas Aster, total biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 49 juta. Komponen biaya tertinggi adalah obat-obatan pada proses menuju perolehan sel telur.

Biaya tersebut, ujar dr. Tono, termasuk pelayanan ekstra yakni dokumentasi lengkap sejak proses ovum pick-up hingga embrio transfer. Dokumentasi tersebut sangat berguna untuk evaluasi manakala program yang telah dijalani ternyata mengalami kegagalan.

Biaya yang diperlukan dapat bertambah jika ada faktor penyulit, misalnya bila dalam cairan semen ternyata tidak ditemukan sel sperma (azoospermia). Kondisi tersebut memerlukan tindakan operasi yang dilakukan oleh ahli bedah urologi.

Soal pelayanan dan biaya yang ditetapkan di Klinik Fertilitas Aster, dr. Nanang menjamin tidak mengarah ke pencarian keuntungan semata. Besaran biaya, menurutnya, berdasarkan perhitungan unit cost dan sebagian besar digunakan untuk barang habis pakai seperti obat-obatan. “Keberadaan klinik itu sejak awal untuk pelayanan. Jika dihitung, mungkin baru mencapai break even point saja,” ujarnya.

Terlepas dari cukup mahalnya biaya, harapan baru bagi pasutri cukup terbuka lebar. Seperti kegembiraan Ny. Yuli yang menunggu kelahiran bayinya. “Saya sekarang mau periksa, doakan saja ya,” kata Ny. Yuli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: