Makan dalam jumlah sedikit tapi sering, jangan makan dalam jumlah atau porsi besar hanya akan membuat anda bertambah mual. Berusahalah makan sewaktu anda dapat makan, dengan porsi kecil tapi sering.


• Makan makanan yang tinggi karbohidrat dan protein yang dapat untuk membantu mengatasi rasa mual anda. Banyak mengkonsumsi buah dan sayuran dan makanan yang tinggi karbohidrat seperti roti, kentang, biscuit, dll
• Di pagi hari sewaktu bangun tidur jangan langsung terburu-buru terbangun, cobalah duduk dahulu dan baru perlahan berdiri bangun. Bila anda merasa sangat mual ketika bangun tidur pagi siapkanlah snak atau biscuit didekat tempat tidur anda, dan anda dapat memakannya dahulu sebelum anda mencoba untuk berdiri.

• Hindari makanan yang berlemak, berminyak dan pedas yang akan memperburuk rasa mual anda.

• Minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi akibat muntah. Minumlah air putih, ataupun juice. Hindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat.

• Vitamin kehamilan kadang memperburuk rasa mual, tapi anda tetap memerlukan folat untuk kehamilan anda ini. Bila mual muntah sangat hebat, konsultasikan ke dokter anda sehingga dapat diberikan saran terbaik untuk vitamin yang akan anda konsumsi. Dan dokter anda mungkin akan memberikan obat untuk mual bila memang diperlukan.

• Vitamin B 6 efektif untuk mengurangi rasa mual pada ibu hamil.  Sebaiknya Konsultasikan dahulu dengan dokter anda untuk pemakaiannya.

• Pengobatan Tradisional : Biasanya orang menggunakan jahe dalam mengurangi rasa mual pada berbagai pengobatan tradisional. Penelitian di Australia menyatakan bahwa jahe dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi rasa mual dan aman untuk ibu dan bayi. Pada beberapa wanita hamil ada yang mengkonsumsi jahe segar atau permen jahe untuk menbantu mengatasi rasa mualnya.

• Istirahat dan relax akan sangat membantu anda mengatasi rasa mual muntah. Karena bila anda stress hanya akan memperburuk rasa mual anda. . Ambilan waktu untuk anda! cobalah beristirahat yang cukup dan santai, dengarkan musik, membaca buku bayi atau majalah kesayangan anda dll. Hadapilah kehamilan anda dengan kebahagian, karena ini adalah anugerahNya.:-)

Ingat! Hubungi dokter anda bila mual-muntah menjadi sangat hebat, sehingga anda tidak dapat makan atau minum apapun juga sehingga dapat menimbulkan kekurangan cairan/dehidrasi. (Hiperemesis gravidarum).

Percayalah Morning sickness atau mual muntah pada kehamilan awal ini akan segera berlalu tanpa anda sadari dan ini akan menjadi salah satu pengalaman menarik selama kehamilan anda—bayangkan saja tentang si kecil yang akan segera hadir membawa sejuta kebahagian

Ciuman intim beresiko menyebarkan berbagai jenis penyakit. Dari penyakit mulut hingga penyakit dalam. Apalagi jika dilakukan dengan beberapa orang yang tidak diketahui riwayat penyakitnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Australia, hal tersebut meningkatkan resiko terkena meningitis atau kerusakan membran otak.

“Ciuman intim terbukti sebagai faktor resiko dan sepertinya, ciuman dengan beberapa orang meningkatkan resiko penyebarannya,” kata Profesor Robert Booy dari RS Anak Westmead di Sydney, Australia.

Meningitis adalah infeksi pada bagian pembungkus otak dan syaraf tulang belakang. Penyebabnya adalah virus atau bakteri. Penyakit ini sering menyerang anak-anak dan remaja. Penyebarannya dari seorang penderita kepada orang di sekitarnya melalui udara misalnya melalui bersin, batuk, ciuman, dan hidup dalam satu ruangan, misalnya di asrama.

Sekitar 5 hingga 10 persen pasien akhirnya meninggal karena serangan penyakit ini dalam 24 hingga 48 jam setelah timbul gejala. Dalam laporan penelitian yang dimuat British Medical Journal, para peneliti mempelajari faktor-faktor yang meningkatkan resiko penyakit. Penelitian tersebut dilakukan terhadap para penderita berusia 15 hingga 19 tahun yang menjalani perawatan di rumah sakit karena menderita penyakit tersebut.

Selain melakukan wawancara dengan pasien, para peneliti juga mengukur sampel darah, kerongkongan, dan lap ingus. Dengan membandingkan data-data serupa dari remaja yang sehat, Booy dan timnya menemukan bahwa ciuman intim antara seseorang dengan penderita meningitis adalah salah satu sumber penyebaran penyakit tersebut.

Mereka menyarankan para remaja untuk mengubah perilakunya untuk menurunkan resiko penyebaran penyakit ini. Tentu saja saran tersebut juga berguna bagi setiap orang. Ciuman bukan masalah sepele dan harus dipastikan dengan orang yang sehat.

Merokok terbukti dapat merusak sperma- dan mewariskan kerusakan genetik itu dari seorang bapak ke anak lelakinya, demikian laporan penelitian di Kanada.

Sebuah penelitian pada tikus menunjukkan bahwa rokok menyebabkan perubahan DNA (gen cetak biru tubuh) pada sel sperma, demikian isi catatan jurnal penelitian kanker pekan ini.

Mutasi seperti itu, diketahui bersifat permanen.

“Jika diwariskan, mutasi ini menampilkan perubahan yang tidak dapat dikembalikan sperti semula dari komposisi genetik,” kata Carole Yauk dari Divisi Penanganan Racun dan Kesehatan Lingkungan Kanada, yang memimpin penelitian.

“Kami telah mengetahui bahwa ibu yang merokok dapat mencederai janinnya, dan di sini kami menunjukkan fakta bahwa seorang ayah dapat secara potensial merusak calon penerusnya, bahkan sebelum bertemu pasangannya.”

Yauk dan rekan-rekannya mempelajari sel yang memproduksi sperma di tikus yang dipapar dengan asap rokok selama enam atau 12 pekan.

Seluruh mamalia terus melanjutkan untuk memproduksi sperma. Mereka menemukan bahwa terjadi mutasi sebanyak 1,7 kali pada sel DNA tikus yang terpapar asap rokok dibandingkan pada tikus yang tidak terpapar asap rokok setelah 12 pekan, dan 1,4 kali mutasi setelah enam pekan.

“Kesimpulan ini menunjukkan bahwa kerusakan tergantung pada lamanya durasi terpapar asap rokok, jadi makin lama anda merokok maka akumulasi mutasi akan makin besar dan makin besar potensi dampaknya pada sel sperma

Gangguan kehamilan dapat terjadi kapan saja. Bisa pada saat kehamilan muda, atau pada masa kehamilan mulai menua, selain juga pada saat-saat menjelang persalinan. Setiap masa dalam kehamilan memiliki jenis gangguannya sendiri-sendiri.

Jenis gangguan kehamilan beragam, dari yang ringan sampai yang berat. Semua jenis gangguan kehamilan dapat diatasi. Beberapa di antaranya sebetulnya sudah dapat dicegah. Upaya pencegahan dapat dilakukan selama pemeriksaan kehamilan rutin. Sekurang-kurangnya, ada 14 jenis gangguan kehamilan yang mungkin timbul dan perlu diwaspadai. Apa saja?

1. Muntah-muntah
Normal jika mual dan muntah berlangsung dalam triwulan pertama kehamilan. Namun, jika muntah-muntah terjadi berlebihan sampai 7 kali dalam sehari, kondisi ibu menjadi lemah, tidak berselera makan, berat badan menurun, dan nyeri ulu hati. Keadaan demikian tidak boleh dibiarkan. Mintalah bantuan bidan atau dokter. Kemungkinan ibu hamil sedang mengidap penyakit berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Kekurangan makanan dan cairan perlu dikoreksi dengan pemberian cairan infus. Jika tidak dikoreksi, buruk pengaruhnya terhadap anak di kandungan maupun pada diri ibu sendiri.

2. Kehamilan lewat 5 bulan, tak merasa ada gerakan janin
Jika betul itu dialami, kemungkinan anak sudah mati dalam kandungan. Dokter dan bidan perlu segera memastikannya. Jika dari pemeriksaan tidak terdengar lagi bunyi jantung anak, berarti anak memang sudah mati. Bayi mati dalam kandungan harus segera dikeluarkan. Jika tidak dikeluarkan, dapat mengganggu ibu. Bayi mati di kandungan lama-lama akan mengering, dan perut ibu semakin susut mengecil. Ibu harus curiga bayi sudah mati dalam kandungan jika perutnya semakin hari semakin mengempis.

3. Berat badan naik berlebihan
Waspadalah jika berat badan ibu hamil naik lebih dari 1 kg dalam seminggu, terkadang disertai tungkai dan mata kaki yang membengkak, tekanan darah meninggi, air seni keruh, nyeri kepala, dan penglihatan berkunang-kunang. Kemungkinan itu merupakan gejala dan tanda pre-eclampsia, yang jika dibiarkan akan masuk ke dalam eclampsia, penyakit yang mengancam nyawa ibu maupun anak jika tidak segera ditanggulangi.

4. Gangguan ginjal
Ibu hamil juga dapat menderita gangguan ginjal. Sering demam-demam, air seni keruh, tekanan darah mungkin meninggi, sering mual-mual (lagi), atau sampai muntah-muntah, nyeri kepala, dan mungkin tidak enak di pinggang. Gangguan ginjal pada ibu hamil perlu segera diobati. Mungkin perlu perawatan rumah sakit.

5. Sering berdebar-debar, sesak napas, dan lekas lelah
Waspadalah jika keluhan tersebut berlangsung terus-menerus, dan kian hari kian bertambah berat. Jika tadinya keluhan itu muncul hanya pada saat melakukan aktivitas fisik, namun sekarang tidak melakukan aktivitas fisik pun sudah berdebar dan sesak napas, kemungkinan ada gangguan jantung dalam kehamilan (vitium cordis). Ibu dengan kondisi begini memerlukan perawatan khusus di rumah sakit, dan pertolongan khusus pula sewaktu persalinan.

6. Anemia
Jika wajah pucat-pasi, merah mata dan telapak tangan pucat, lekas lelah, lemah, dan lesu, kemungkian ibu hamil menderita kurang darah (anemia). Sel-sel darah merah kekurangan unsur hemoglobin. Pada ibu hamil, anemia sering disebabkan oleh kekurangan zat besi. Anemia yang berat bisa mengganggu jantung juga. Keluhan sering berdebar pada pasien anemia kemungkinan karena sudah sampai stadium membebani jantung.

Anemia kekurangan zat besi mudah diatasi dengan pemberian tambahan pil zat besi (sulfas ferosus), atau tablet penambah zat besi lainnya. Anemia dalam kehamilan berefek buruk pada kehamilan, selain juga berefek buruk pada janin yang dikandung. Pasokan zat asam janin kurang dari normal. Gangguan plasenta dan perdarahan pasca-persalinan sering terjadi pada ibu hamil yang anemia.

7. Gangguan kelenjar gondok
Jika kelopak mata sembab menonjol, tapi bukan sakit mata, jemari gemetar, sering berdebar-debar walau tidak habis melakukan aktivitas fisik, badan terasa lebih panas (gerah) dari biasa, dan banyak berkeringat, kemungkinan ini gejala aktivitas kelenjar gondok di batang leher berlebihan (hyperthyroid).

Kelenjar gondok tidak harus membengkak seperti pada penyakit gondok endemik akibat kekurangan iodium, namun fungsi gondoknya saja yang berlebihan, sehingga menimbulkan keluhan dan gejala seperti di atas itu. Agar tidak sampai mengganggu kehamilan, maupun janin yang dikandung, gangguan kelenjar gondok pun perlu diatasi.

8. Kencing manis
Ibu hamil dicurigai kencing manis jika bertubuh gemuk, berasal dari keluarga dengan riwayat kencing manis, mengeluh sering haus terus, banyak berkemih, dan merasa lapar terus. Ibu hamil dengan kencing manis akan melahirkan anak yang lebih besar dari normal. Seberapa bisa, kencing manis ibu hamil terkontrol agar tidak berpengaruh buruk terhadap anak yang dikandung. Pertolongan khusus perlu diberikan untuk bayi yang dilahirkan dari ibu yang kencing manis.

9. Ibu hamil dengan infeksi
Ibu hamil dengan demam tinggi dan berlangsung lebih dari 3 hari harus dipikirkan kemungkinan terjadi infeksi. Apa pun penyebab infeksinya, tidak menyehatkan bagi janin yang dikandung. Dokter perlu memeriksa kalau-kalau infeksinya berefek buruk terhadap anak.

10. Kejang-kejang
Ibu hamil dengan kejang-kejang tidak boleh dianggap enteng. Kejang-kejang sendiri bisa disebabkan oleh infeksi selaput otak (meningitis), atau pada otak sendiri (encephalitis). Namun, paling sering disebabkan oleh penyakit eclampsia seperti sudah dibahas di atas. Jangan tunda pergi ke dokter, sebab setiap kejang-kejang harus dianggap keadaan yang serius.

11. Keluar darah dan lendir dari liang rahim
Keluar darah dari liang rahim pada masa kehamilan kurang dari 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan terjadi keguguran. Ancaman keguguran yang masih awal dapat dibendung dengan perawatan khusus, agar janin selamat sampai cukup bulan. Namun akan gagal mempertahankan kehamilan jika perdarahan telanjur banyak dan berlebihan.

Keluar darah pada kehamilan yang lebih tua, kemungkinan ada gangguan pada air-ari. Keluar darah dapat disertai rasa nyeri mulas melilit di perut bawah, bisa juga tidak. Keluarnya darah dengan rasa nyeri disertai keluarnya lendir, apalagi jika sampai keluar air ketuban (menyerupai air seni), tergolong keadaan gawat darurat kehamilan. Ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit, mencegah seberapa mungkin dalam 24 jam kehamilan masih dapat dipertahankan.

12. Kehamilan terganggu
Jika pada kehamilan muda (6-10 minggu) atau kurang dari dua setengah bulan keluar perdarahan dari liang rahim, disertai nyeri, mulas melilit di perut bawah, selain kemungkinan keguguran, dapat juga sebab kehamilan yang terganggu (KET atau Kehamilan Ektopik Terganggu).

Normalnya, kehamilan tumbuh di dalam rongga rahim. Namun, tidak demikian dengan kehamilan yang tersasar ke tempat tumbuh yang lain. Kehamilan di luar rahim disebut kehamilan ektopik (ectopic pregnancy), yang dapat terjadi di saluran telur, indung telur, atau di mana saja di luar rahim. Kehamilan di luar rahim dapat saja selamat sampai kehamilan cukup bulan, namun lebih sering mengalami gangguan. Jika kehamilan yang tersasar sampai terganggu, terpaksa anak harus dikeluarkan kendati belum cukup bulan.

13. Keluar darah setelah kehamilan 28 minggu
Jika keluar darah setelah kehamilan 28 minggu atau 7 bulan, kemungkinan ada gangguan pada ari-ari. Kalau bukan luruhnya ari-ari dari perlekatannya pada dinding rahim (solutio placentae), kemungkinan lain adalah mengelupasnya sebagian tepi ari-ari dari dinding rahim lantaran lokasi perlekatannya berada di sekitar mulut rahim (placentae praevia). Keduanya tergolong gawat darurat yang memerlukan pertolongan rumah sakit segera.

14. Keluar cairan ketuban
Ketuban atau bungkus bayi dalam kandungan tidak boleh pecah sebelum tiba waktunya persalinan. Jika sampai pecah, berarti cairan ketuban akan tumpah keluar dari liang rahim, dan anak yang seharusnya terlindung steril di dalamnya terancam bahaya tercemar oleh bibit penyakit dari dunia luar. Keadaan ini disebut Ketuban Pecah Dini (KPD), yakni keluar cairan menyerupai air seni tapi tak berbau pesing, sebelum merasa mulas-mulas tanda awal persalinan.

Adakalanya, cairan ketuban tidak bening lagi, melainkan sudah kehijau-hijauan, tanda sudah terinfeksi kuman dari luar. Infeksi cairan ketuban mengancam janin yang terbungkus di dalamnya. Ini pun tergolong gawat darurat. Janin perlu diselamatkan agar tidak sampai menderita infeksi di dalam kandungan ibunya.

Pertumbuhan Janin

Juni 29, 2007

hamil1.jpgJAKARTA – Dewi (33) pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintah ini dinyatakan positif mengandung anak ketiganya. Namun, selain berita bahagia yang diterima, ibu dua putri ini juga dinyatakan mengalami anemia oleh dokter. Berbahayakah kondisi itu bagi kandungan?

Selama masa kehamilan banyak hal yang ditemui para calon ibu. Perubahan bentuk badan, mudah lelah, kaki bengkak, nyeri punggung, dan keluhan yang lain. Kasus yang dialami Dewi misalnya, banyak ditemukan pada calon ibu yang lain. Dewi dinyatakan mengalami anemia saat memeriksakan keterlambatan menstruasinya.

Pada kasus lain, wanita hamil baru dinyatakan mengalami anemia setelah kehamilan berjalan beberapa bulan. Bahkan, bisa juga diketahui saat menjelang proses kelahiran. Spesialis Kebidanan dari RSP Pertamina dr Harini Susiana SpOG mengatakan, jika wanita dinyatakan anemia saat positif hamil berarti sebelumnya sudah mengalami kasus serupa.

‿Sedangkan kasus anemia yang baru diketahui saat kehamilan biasanya pada usia tujuh bulan kandungan,‿ ujar dokter yang akrab disapa Rini. Anemia merupakan kondisi jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin—protein pembawa oksigen—dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkan ke seluruh bagian tubuh. Anemia menyebabkan jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berkurang.

Karena itu darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh. Anemia terjadi pada wanita apabila hemoglobin (Hb) kurang dari 12g/dL, sedangkan pada pria anemia terjadi bila hemoglobin kurang dari 14g/dL. ‿Sedangkan pada kondisi wanita hamil, komposisi tubuh berubah ditunjang adanya cairan bayi yang bertambah berat,‿ kata Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD (K). Sebab itu, diperlukan kebutuhan makanan yang lebih baik.

Gejala yang tampak ini karena hemoglobin yang turun. Gejala-gejala yang tampak seperti lemas, mengantuk, capek, dan jantung berdebar-debar. Rini menambahkan, jika baru diketahui setelah usia kandungan memasuki hitungan bulan penyebabnya adalah faktor gizi. Anemia ini bisa memengaruhi kondisi janin yang dikandung. Bayi yang lahir dari ibu penderita anemia bisa hidup, tapi mengalami banyak komplikasi. Berat badan bayi yang lahir kurang dari 2 1/2 kg. Risiko pada bayi yang dikandung oleh ibu yang mengalami anemia cenderung kecil. Paling banyak yang terjadi adalah kelainan organik.

‿Secara teoritis terjadi kelainan organik pada bayi seperti anomali atau gangguan pertumbuhan bayi,‿ sebut Rini. Selain berat badan bayi yang jauh dari normal, kondisi yang dikhawatirkan adalah saat ibu melahirkan dan kondisi sesudah melahirkan. Setelah melahirkan biasanya kontraksi uterus bagus. Sementara ibu dalam kondisi anemia semua organ-organ tidak bagus sehingga pada uterus berkontraksi tidak begitu bagus dipengaruhi hemoglobin rendah. Untuk itu, wanita yang ingin hamil disarankan untuk menstabilkan hemoglobin terlebih dahulu.

‿Artinya, kondisi hemoglobin sedang bagus atau tidak. Biasanya kalau anemia dari usia kehamilan 0 bulan ditakutkan ibu hamil mengalami kelainan jantung. Kondisi ini sering disebut kelainan saat hamil,‿ ujar Rini. Dia melanjutkan, sebelum ibu hamil dilihat dulu kelainan yang dialami. Jika ibu mengalami penyakit jantung, maka direkomendasikan ke ahli jantung dulu untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kalau ibu mempunyai kelainan penyakit dalam, akan direkomendasikan ke ahli penyakit dalam.

‿Tentu saja, kondisi ini akan berdampak ke bayi yang dikandung. Karena ibu yang mengalami kekurangan darah akan berpengaruh pada pertumbuhan berat badan bayi. Bisa juga menyebabkan keguguran,‿ tutur Samsuridjal. Menurut dia, kasus anemia banyak terjadi di daerah karena terkait masalah kekurangan gizi dan kebersihan lingkungan. ‿Wanita hamil di desa masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Ini akan semakin memperburuk keadaan ibu hamil itu sendiri,‿ katanya.

Sementara dr Harini mengungkapkan, kelainan jantung terkadang bisa juga menyebabkan anemia. Kelainan jantung terjadi akibat Hb-nya rendah karena pembagian oksigennya tidak bagus.‿Semua peredaran darah yang memonitor adalah jantung. Kalau jantung tidak bagus, berarti sirkulasinya juga tidak bagus,‿ katanya.

Lakukan Pola Hidup Sehat

Asupan makanan bagi ibu hamil harus diperhatikan karena membutuhkan nutrisi lebih dari biasanya. Kondisi ibu yang berbeda selama sembilan bulan mengharuskan pemenuhan makanan bergizi yang berguna untuk kesehatan ibu, perkembangan otak bayi, dan manfaat yang lain.

Menurut ahli gizi medik dari RSCM Rahmat Sugih SpGM, ibu hamil membutuhkan nutrisi yang lebih banyak. Pemenuhan gizi yang harus dipenuhi meliputi kebutuhan energi dan vitamin. ‿Kebutuhan ini untuk pembentukan darah zat besi dan protein yang tinggi. Jika kekurangan kebutuhan tersebut, kondisi akan rentan terjadi anemia,‿ ujar Rahmat seraya menambahkan pentingnya pemenuhan gizi agar cairan tubuh bertambah sehingga darah lebih encer.

Dia menyarankan, langkah pertama yang harus dilakukan wanita yang ingin mengandung adalah memperbaiki status gizi. ‿Wanita harus mempunyai tinggi badan serta berat badan ideal. Jika status gizi sudah baik dapat memulai untuk hamil,‿ sebut Rahmat.

Senada dengan hal itu, dr Harini Susiana SpOG mengungkapkan, untuk mengatasi anemia pada kehamilan dapat ditambah asupan zat besi penambah darah, makanan yang bagus, gizi yang bagus, dan vitamin. Pada kasus anemia pada kehamilan, ibu hamil dapat diberikan infus, obat-obatan, dan diberi asupan gizi yang bagus.

‿Bisa juga direkomendasikan ke ahli gizi untuk memperbaiki status gizi ibu,‿ kata Rini. Untuk kasus di Indonesia masih jarang. Karena biasanya kasus anemia pada kehamilan disebabkan faktor gizi dan kelainan-kelainan yang dialami ibu hamil.

Staff Physician, Department of Emergency Medicine, University of Virginia Health Sciences Center, Patrick Yorba MD menyarankan, beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah anemia, yakni menjalani pola hidup sehat dan bergizi. ‿Dapat pula mengurangi minuman alkohol. Semua tipe anemia dan akibatnya bisa dikurangi dengan rajin melakukan pemeriksaan ketika masalah semakin serius,‿kata Yorba.

Bisa Memicu Pendarahan

Saat melahirkan rahim akan langsung melakukan kontraksi-kontraksi sehingga darah berhenti. Karena anemia, distribusi ke organ-organ tubuh yang lain tidak bagus. Akibatnya,kontraksi-kontraksi juga tidak bagus. Bahkan, kalau tidak terjadi kontraksi, berarti darah akan keluar terus.

Prof Samsuridjal mengatakan, wanita hamil yang mengalami anemia berisiko mengalami pendarahan. ‿Kekurangan darah ini akan semakin memperberat kinerja organ tubuh. Karena sel darah dalam tubuh akan membawa oksigen dan bila terjadi kekurangan akibatnya peredaran arah semakin cepat,‿ ujar Samsuridjal. Penderita anemia saat melahirkan bisa menyebabkan pendarahan yang tidak berhenti. Pendarahan terus susah untuk berhenti sehingga menyebabkan anatoni.

Kalau terjadi anatoni bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya. Dengan pemeriksaan sejak dini kehamilan keterlambatan diagnosis dapat diketahui dan dapat ditangani sebelum terlambat. ‿Sehingga kasus kematian ibu melahirkan dapat semakin ditekan,‿ harapnya. Sembari mengingatkan bahwa anemia bukan satu-satunya penyebab kematian ibu melahirkan di Indonesia.

Sebab itu, ketika ibu sudah diketahui mengalami anemia sebaiknya segera lakukan pemeriksaan rutin.Kalau sudah seperti ini bisa dilakukan pemeriksaan per minggu. Dari awal semester pertama harus sudah intensif.

NIFAS (PUERPURIUM

Juni 29, 2007

Masa nifas atau masa puerpurium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah 6 minggu.

Wanita pasca persalinan harus cukup istirahat. Delapan jam pasca persalinan, ibu harus tidur terlentang untuk mencegah perdarahan. Sesudah 8 jam, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan bayi ditempatkan pada satu kamar. Pada hari kedua, bila perlu dilakukan latihan senam. Pada hari ketiga umumnya sudah dapat duduk, hari keempat berjalan dan hari kelima dapat dipulangkan. Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup kalori, cukup protein dan banyak buah.

Perawatan dan hal-hal yang terjadi selama nifas :
1. Genitalia interna dan eksterna
2. Suhu badan pasca persalinan
3. Nadi
4. Hemokonsentrasi
5. Laktasi
6. Mulas
7. Serviks, uterus dan adneksa
8. Lokia
9. Miksi
10. Defekasi
11. Latihan senam

Genitalia Interna dan Eksterna
_____________________________

Alat-alat genitalia interna dan eksterna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang disebut involusi.
1. Fundus uteri
    – Setinggi pusat setelah janin dilahirkan.
    – Setinggi 2 jari bawah pusat segera setelah plasenta lahir.
    – Setinggi 7 cm atas simfisis ossis pubis atau setengah simfisis-pusat pada hari
       ke-5.
    – Tidak dapat diraba diatas simfisis ossis pubis setelah 12 hari.
2. Bekas implantasi plasenta
    – Merupakan luka kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri yang berdiameter
       7,5 cm.
    – Sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal.
    – Diameternya menjadi 3,5 cm sesudah 2 minggu
    – Diameternya mencapai 2,4 cm pada 6 minggu.
3. Berat uterus
    – Berat uterus normal kira-kira 30 gram.
    – Berat uterus gravidus aterm kira-kira 1000 gram.
    – Beratnya menjadi 500 gram, 1 minggu pasca persalinan.
    – Beratnya menjadi 300 gram, 2 minggu pasca persalinan.
    – Beratnya menjadi 40-60 gram setelah 6 minggu pasca persalinan.
4. Pembukaan serviks
    – Serviks agak terbuka seperti corong pada pasca persalinan dan konsistensinya
       lunak.
    – Tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri segera
       setelah melahirkan.
    – 2-3 jari tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri
       setelah 2 jam pasca persalinan.
    – 1 jari tangan pemeriksa hanya dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri
       setelah 1 minggu.
5. Endometrium
    – Timbul trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.
6. Ligamen, diafragma pelvis, fasia, otot, dan dinding vagina
    – Ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan
       partus berangsur-angsur kembali seperti semula.
    – Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari kedua pasca
       persalinan harus dilakukan latihan senam.
    – Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan.
    – Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira
       setelah 3 minggu.
7. Luka dan infeksi
    – Luka jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina
       dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer.
    – Infeksi dapat timbul dan dapat menyebabkan selulitis dan bila berlanjut dapat
       menimbulkan sepsis.

Suhu Badan Pasca Persalinan
___________________________

Suhu badan pasca persalinan :
– Dapat naik lebih dari 0,5 derajat selsiuus dari keadaan normal tetapi tidak lebih
   dari 39 derajat selsius.
– Umumnya suhu badan kembali normal sesudaah 12 jam pertama melahirkan.
– Bila suhu lebih dari 38 derajat selsius,, mungkin ada infeksi.

Nadi
____

Nadi :
– Nadi umumnya 60-80 denyut per menit.
– Segera setelah partus dapat terjadi takiikardi.
– Bila terdapat takikardi dan badan tidak  panas mungkin ada perdarahan berlebihan
   atau ada penyakit jantung.
– Pada masa nifas, umumnya senyut nadi lebbih labil dibanding suhu badan.

Hemokonsentrasi
_______________

Hemokonsentrasi :
– Dapat terjadi pada hari ke 3-15 pasca peersalinan.

Laktasi
_______

Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan. Umumnya produksi ASI baru terjadi pada hari ke-2 atau 3 pasca persalinan. Pada hari pertama keluar kolostrum, cairan kuning yang lebih kental daripada air susu, mengandung banyak protein albumin, globulin dan benda-benda kolostrum. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan membalut kedua mammae hingga tertekan atau memberikan bromokriptin hingga hormon laktogenik tertekan. Kesulitan yang dapat terjadi selama masa laktasi ialah :
1. Puting rata
    – Sejak hamil, ibu dapat menarik-narik puting susu.
    – Ibu harus tetap menyusui agar puting selalu sering tertarik.
2. Puting lecet
    – Puting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan payudara yang
       tidak benar dan infeksi monilia.
    – Penatalaksanaan dengan melakukan teknik menyusui yang benar, puting harus
       kering saat menyusui, puting diberi lanolin, monilia diterapi dan menyusui
       pada payudara yang tidak lecet.
    – Bila lecetnya luas, menyusui ditunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan
       tangan atau dipompa.
3. Payudara bengkak
    – Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI tidak lancar karena bayi tidak
       cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih.
    – Penatalaksanaan dengan menyusui lebih sering, kompres hangat, ASI
       dikeluarkan dengan pompa dan pemberian analgesik.
4. Mastitis
    – Payudara tampak edema, kemerahan, dan nyeri yang biasanya terjadi
       beberapa minggu setelah melahirkan.
    – Penatalaksanaan dengan kompres hangat / dingin, pemberian antibiotik dan
       analgesik, menyusui tidak dihentikan.
5. Abses payudara
    – Penatalaksanaan yaitu ASI dipompa, abses diinsisi, diberikan antibiotik dan
       analgesik.
6. Bayi tidak suka menyusui
    – Keadaan ini dapat disebabkan pancaran ASI terlalu kuat sehingga mulut bayi
       terlalu penuh, bingung puting pada bayi yang menyusui diselang-seling dengan
       susu botol, puting rata dan terlalu kecil atau bayi mengantuk.
    – Pancaran ASI terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih sering, memijat
       payudara sebelum menyusui dan menyusui dengan posisi terlentang dan bayi
       ditaruh diatas payudara.
    – Pada bayi dengan bingung puting, hindari pemakaian dot botol dan gunakan
       sendok atau pipet untuk memberikan pengganti ASI.
    – Pada bayi mengantuk yang sudah waktunya diberikan ASI, usahakan agar bayi
       terbangun.

Mulas
_____

Mulas :
– Perasaan mulas sesudah partus akibat konntraksi uterus kadang sangat
   mengganggu selama 2-3 hari pasca persalinan dan biasanya lebih sering pada
   multipara dibanding primipara.
– Perasaan mulas lebih terasa saat menyusuui, dapat pula timbul bila masih ada sisa
   selaput ketuban, sisa plasenta, atau gumpalan darah dalam kavum uteri.
– Pasien dapat diberikan analgesik atau seedatif.

Serviks, uterus dan adneksa
___________________________

Serviks, uterus dan adneksa :
– Keadaan serviks, uterus, dan adneksa billa ada perdarahan, biasanya karena
   involusi uteri, dapat diberikan tablet ergometrin dan tirah baring untuk
   menghentikan perdarahan.
– Bila serviks tampak hiperemis, meradang,, ada erosi dan curiga ke arah
   keganasan, lakukan pemeriksaan sitologi.
– Bila tidak ada keganasan, lakukan kauterrisasi kimiawi atau elektrik dan dapat
   juga dengan bedah beku.

Lokia
_____

Lokia :
– Lokia adalah sekret dari kavum uteri dann vagina dalam masa nifas.
– Hari pertama dan kedua terdapat lokia ruubra atau lokia kruenta, terdiri dari darah
   segar bercampur sisa selaput ketuban, sel desidua, sisa verniks kaseosa, lanugo
   dan mekonium.
– Hari berikutnya keluar lokia sanguinolennta berupa darah bercampur lendir.
– Setelah 1 minggu, keluar lokia serosa beerwarna kuning dan tidak mengandung
   darah.
– Setelah 2 minggu, keluar lokia alba yangg hanya berupa cairan putih.
– Biasanya lokia berbau agak amis, bila beerbau busuk mungkin terjadi lokiostasis
   (lokia yang tidak lancar keluar) dan infeksi.

Miksi
_____

Miksi :
– Miksi harus secepatnya dilakukan sendirii.
– Bila kandung kemih penuh dan tidak bisa  miksi sendiri, dilakukan kateterisasi.
– Bila perlu dipasang dauer catheter atau  indwelling catheter untuk mengistirahatkan
   otot-otot kandung kencing.
– Dengan melakukan mobilisasi secepatnya,  tak jarang kesulitan miksi dapat diatasi.

Defekasi
________

Defekasi :
– Defekasi harus ada dalam 3 hari pasca peersalinan.
– Bila terjadi obstipasi dan timbul koprosstase hingga skibala tertimbun di rektum,
   mungkin terjadi febris.
– Lakukan klisma atau berikan laksan perorral.
– Dengan melakukan mobilisasi sedini mungkkin, tidak jarang kesulitan defekasi
   dapat diatasi.

Latihan senam
_____________

Latihan senam dapat diberikan hari kedua, misalnya :
– Ibu terlentang lalu kedua kaki ditekuk,  kedua tangan ditaruh di atas dan
   menekan perut. Lakukan pernapasan dada lalu pernapasan perut.
– Dengan posisi yang sama, angkat bokong llalu taruh kembali.
– Kedua kaki diluruskan dan disilangkan laalu kencangkan otot seperti menahan
   miksi dan defekasi.
– Duduklah pada kursi, perlahan bungkukkann badan sambil tangan berusaha
   menyentuh tumit.

Ibu diharap kembali memeriksakan diri pada 6 minggu pasca persalinan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaan umum, keadaan payudara dan putingnya, dinding perut apakah ada hernia, keadaan perineum, kandung kemih apakah ada rektokel, tonus otot sfingter ani dan adanya fluor albus.

Kelainan yang dapat ditemukan selama nifas ialah infeksi nifas, perdarahan pasca persalinan dan eklampsia puerpurale.

PERDARAHAN POST PARTUM

Juni 29, 2007

Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir. Termasuk perdarahan karena retensio plasenta. Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih 500-600 cc dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir.

Pembagian perdarahan post partum :
1. Perdarahan post partum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi
    selama 24 jam setelah anak lahir.
2. Perdarahan post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi
    setelah 24 jam anak lahir. Biasanya hari ke 5-15 post partum.

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan post partum :
1. Menghentikan perdarahan.
2. Mencegah timbulnya syok.
3. Mengganti darah yang hilang.

Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh persalinan. Berdasarkan penyebabnya :
1. Atoni uteri (50-60%).
2. Retensio plasenta (16-17%).
3. Sisa plasenta (23-24%).
4. Laserasi jalan lahir (4-5%).
5. Kelainan darah (0,5-0,8%).

Etiologi perdarahan post partum :
1. Atoni uteri.
2. Sisa plasenta dan selaput ketuban.
3. Jalan lahir : robekan perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim.
4. Penyakit darah
    Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia
    yang sering dijumpai :
    – Perdarahan yang banyak.
    – Solusio plasenta.
    – Kematian janin yang lama dalam kandungan.
    – Pre eklampsia dan eklampsia.
    – Infeksi, hepatitis dan syok septik.

Faktor predisposisi terjadinya atonia uteri :
– Umur
– Paritas
– Partus lama dan partus terlantar.
– Obstetri operatif dan narkosa.
– Uterus terlalu regang dan besar misalnyaa pada gemelli, hidramnion atau janin
   besar.
– Kelainan pada uterus seperti mioma uterii, uterus couvelair pada solusio plasenta.
– Faktor sosio ekonomi yaitu malnutrisi.

Cara membuat diagnosis perdarahan post partum :
1. Palpasi uterus : bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uterus.
2. Memeriksa plasenta dan ketuban : apakah lengkap atau tidak.
3. Melakukan eksplorasi kavum uteri untuk mencari :
    – Sisa plasenta dan ketuban.
    – Robekan rahim.
    – Plasenta suksenturiata.
4. Inspekulo : untuk melihat robekan pada serviks, vagina dan varises yang pecah.
5. Pemeriksaan laboratorium : periksa darah, hemoglobin, clot observation test
    (COT), dan lain-lain.

Perdarahan post partum adakalanya merupakan perdarahan yang hebat maupun perdarahan perlahan-lahan tetapi terus-menerus. Keduanya dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan dapat menjadi syok. Oleh karena itu penting sekali pada setiap ibu bersalin dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin; serta pengawasan tekanan darah, nadi dan pernapasan ibu, kontraksi uterus dan perdarahan selama 1 jam.

Beberapa menit setelah janin lahir, biasanya mulai terjadi proses pelepasan plasenta disertai sedikit perdarahan. Bila plasenta sudah lepas dan turun ke bagian bawah rahim maka uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkan plasenta (his pengeluaran plasenta).

Penanganan Perdarahan Post Partum
__________________________________

Penanganan perdarahan post partum berupa mencegah perdarahan post partum, mengobati perdarahan kala uri dan mengobati perdarahan post partum pada atoni uteri.

Cara mencegah perdarahan post partum yaitu memeriksa keadaan fisik, keadaan umum, kadar hemoglobin, golongan darah dan bila mungkin tersedia donor darah. Sambil mengawasi persalinan, dipersiapkan keperluan untuk infus dan obat-obatan penguat rahim (uterotonika). Setelah ketuban pecah, kepala janin mulai membuka vulva, infus dipasang dan sewaktu bayi lahir diberikan 1 ampul methergin atau kombinasi dengan 5 satuan sintosinon (sintometrin intravena). Hasilnya biasanya memuaskan.

Cara mengobati perdarahan kala uri :
– Memberikan oksitosin.
– Mengeluarkan plasenta menurut cara Credee (1-2 kali).
– Mengeluarkan plasenta dengan tangan.

Pengeluaran plasenta dengan tangan segera sesudah janin lahir dilakukan bila :
– Menyangka akan terjadi perdarahan post ppartum.
– Perdarahan banyak (lebih 500 cc).
– Retensio plasenta.
– Melakukan tindakan obstetri dalam narkossa.
– Riwayat perdarahan post partum pada perssalinan yang lalu.

Jika masih ada sisa-sisa plasenta yang agak melekat dan masih terdapat perdarahan segera lakukan utero-vaginal tamponade selama 24 jam, diikuti pemberian uterotonika dan antibiotika selama 3 hari berturut-turut dan pada hari ke-4 baru dilakukan kuretase untuk membersihkannya.

Jika disebabkan oleh luka-luka jalan lahir, luka segera dijahit dan perdarahan akan berhenti.

Pengobatan perdarahan post partum pada atoni uteri tergantung banyaknya perdarahan dan derajat atoni uteri yang dibagi dalam 3 tahap :
1. Tahap I : perdarahan yang tidak banyak dapat diatasi dengan memberikan
    uterotonika, mengurut rahim (massage) dan memasang gurita.
2. Tahap II : bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak, selanjutnya
    berikan infus dan transfusi darah lalu dapat lakukan :
    – Perasat (manuver) Zangemeister.
    – Perasat (manuver) Fritch.
    – Kompresi bimanual.
    – Kompresi aorta.
    – Tamponade utero-vaginal.
    – Jepit arteri uterina dengan cara Henkel.
3. Tahap III : bila belum tertolong maka usaha terakhir adalah menghilangkan
    sumber perdarahan dengan 2 cara yaitu meligasi arteri hipogastrika atau
    histerektomi.

Retensio Plasenta
_________________

Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam setelah bayi lahir.

Penyebab retensio plasenta :
1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih
    dalam. Menurut tingkat perlekatannya :
    a. Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih
        dalam.
    b. Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua
        endometrium sampai ke miometrium.
    c. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke
        serosa.
    d. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau peritoneum
        dinding rahim.
2. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni
    uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat
    kesalahan penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta keluar
    (plasenta inkarserata).

Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi untuk segera mengeluarkannya.

Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.

Penanganan retensio plasenta berupa pengeluaran plasenta dilakukan apabila plasenta belum lahir dalam 1/2-1 jam setelah bayi lahir terlebih lagi apabila disertai perdarahan.

Tindakan penanganan retensio plasenta :
1. Coba 1-2 kali dengan perasat Crede.
2. Mengeluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta).
3. Memberikan transfusi darah bila perdarahan banyak.
4. Memberikan obat-obatan misalnya uterotonika dan antibiotik.

Manual plasenta :
1. Memasang infus cairan dekstrose 5%.
2. Ibu posisi litotomi dengan narkosa dengan segala sesuatunya dalam keadaan
    suci hama.
3. Teknik : tangan kiri diletakkan di fundus uteri, tangan kanan dimasukkan dalam
    rongga rahim dengan menyusuri tali pusat sebagai penuntun. Tepi plasenta
    dilepas – disisihkan dengan tepi jari-jari tangan – bila sudah lepas ditarik keluar.
    Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa plasenta dan
    bersihkanlah. Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi robekan jalan
    lahir (uterus) dan membawa infeksi.

Inversio Uteri
_______________

Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri.

Pembagian inversio uteri :
1. Inversio uteri ringan : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum uteri
    namun belum keluar dari ruang rongga rahim.
2. Inversio uteri sedang : terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina.
3. Inversio uteri berat : uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah
    keluar vagina.

Penyebab inversio uteri :
1. Spontan : grande multipara, atoni uteri, kelemahan alat kandungan, tekanan
    intra abdominal yang tinggi (mengejan dan batuk).
2. Tindakan : cara Crade yang berlebihan, tarikan tali pusat, manual plasenta yang
    dipaksakan, perlekatan plasenta pada dinding rahim.

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya inversio uteri :
1. Uterus yang lembek, lemah, tipis dindingnya.
2. Tarikan tali pusat yang berlebihan.
3. Patulous kanalis servikalis.

Frekuensi inversio uteri : angka kejadian 1 : 20.000 persalinan.

Diagnosis dan gejala klinis inversio uteri :
1. Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat,
    perdarahan yang banyak sampai syok. Apalagi bila plasenta masih melekat dan
    sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis.
2. Pemeriksaan dalam :
    – Bila masih inkomplit maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri
       cekung ke dalam.
    – Bila komplit, di atas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba
       tumor lunak.
    – Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik).

Penanganan inversio uteri :
1. Pencegahan : hati-hati dalam memimpin persalinan, jangan terlalu mendorong
    rahim atau melakukan perasat Crede berulang-ulang dan hati-hatilah dalam
    menarik tali pusat serta melakukan pengeluaran plasenta dengan tajam.
2. Bila telah terjadi maka terapinya :
    – Bila ada perdarahan atau syok, berikan infus dan transfusi darah serta perbaiki
       keadaan umum.
    – Segera itu segera lakukan reposisi kalau perlu dalam narkosa.
    – Bila tidak berhasil maka lakukan tindakan operatif secara per abdominal
       (operasi Haultein) atau per vaginam (operasi menurut Spinelli).
    – Di luar rumah sakit dapat dibantu dengan melakukan reposisi ringan yaitu
       dengan tamponade vaginal lalu berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.