Seperti Ny. Yuli, keinginan pasangan suami istri (pasutri) memiliki anak tak selamanya berjalan mulus. Infertilitas menjadi salah satu penyebab pasutri mengalami kesulitan untuk memiliki anak.

Kasus infertilitas baik di dunia maupun di Indonesia diperkirakan mencapai angka 15% dari pasangan usia reproduksi (15-40 tahun). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka 80 juta pasangan di negara berkembang yang mengalami gangguan kesuburan. Di Jawa Barat, jumlahnya diperkirakan 10% dari angka pasangan usia subur.

Infertilitas bisa terjadi akibat gangguan dari pihak suami, istri dan gabungan keduanya. Dokter Nanang W. Astarto, Sp.O.G. mengatakan kasus infertilitas 30% disebabkan faktor suami, 50% istri dan 20% gabungan.

Faktor penyebab gangguan kesuburan dari pihak suami bisa timbul karena gangguan pada testis misalnya kelainan jumlah, gerakan, dan bentuk sperma. Masalah ereksi dan ejakulasi, saluran sperma tersumbat, pernah menjalani vasektomi atau terdapat antibodi anti sperma juga menjadi penyebab.

Sementara penyebab infertilitas dari pihak istri antara lain endometriosis dan radang atau infeksi pada organ reproduksi; saluran telur (tuba) tersumbat; gangguan ovulasi; rahim tidak normal, antibodi anti sperma pada tubuh ibu atau radang panggul.

Faktor penting lainnya adalah usia. Rasio kemungkinan hamil sampai usia ibu 34 tahun adalah 90%, usia 40 tahun 67% dan di atas 45 tahun menjadi hanya 15%. “Itu adalah rasio pada keadaan normal. Artinya, rasio tersebut terus menurun jika ada faktor penyulit,” ujar dr. Tono Djuwantono, Sp.O.G.

Infertilitas memang tak selalu dapat diketahui penyebabnya. Tak sedikit pula pasangan yang dinyatakan normal, tak kunjung memiliki keturunan.

Salah seorang peserta program bayi tabung, Ny. Yuli Setiawati mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk mendapatkan putra dari pernikahannya pada 1999. “Dari pemeriksaan dokter, memang ada berbagai kendala, baik itu dari saya maupun suami,” katanya.

Gangguan kesuburan telah lama mendapatkan perhatian khusus dunia kedokteran. Berbagai teknik diteliti dan dikembangkan, termasuk inseminasi buatan hingga teknik bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Terdapat dua teknik bayi tabung yang berkembang, yaitu metode konvensional dan injeksi sperma intra sitoplasma (Intra Cytoplasmic Sperm Injection/ICSI).

Berita baiknya, kedua teknik ini, sudah bisa diterapkan di Klinik Fertilitas Aster RSHS. Ini cukup menjanjikan bagi sekira 540.000 sampai 816.000 pasangan suami istri yang memiliki problem kesuburan di Jawa Barat. Mereka tak lagi harus terbang ke Jakarta apalagi Singapura untuk mengatasi problematika infertilitasnya.

Pengembangan teknik bayi tabung di Bandung memang tidak main-main. Persiapan sarana, teknologi dan SDM sudah dimulai sejak 1995. Gayung bersambut ketika Jepang memberikan loan (pinjaman) untuk membangun gedung –yang kini dikenal sebagai gedung baru–beserta fasilitas di dalamnya. Dari sinilah pelayanan dimulai sampai digelarnya metode bayi tabung 19 Mei 2005 lalu.

Peminat program bayi tabung di Klinik Aster terbilang tinggi. Pasutri yang mendambakan bayi dari rahimnya sendiri bahkan rela antre dan berada pada daftar tunggu. “Bayi tabung merupakan teknologi pamungkas bagi pasangan yang mengalami infertilitas,” ujar dr. Tono yang menjadi salah satu dokter ahli fertilitas di klinik tersebut.

Anggota Tim Klinik Fertilitas Aster lainnya adalah dr. Nanang W. Astarto, Sp.O.G. (K), MARS, dr. Duddy S. Nataprawira, Sp.O.G (K), dr. Tono Djuwantono, Sp.O.G. (K) MARS, dr. Wiryawan Permadi, Sp.O.G. (K), dr. Tita, Sp.O.G. (K), dr. Herman Wibisono, Sp.And dan embriologis, Drs. Harris Herlianto.

Sebagai langkah pembuka pemahaman mengenai program bayi tabung, Klinik Aster mengadakan kelas fertilitas setiap bulan bagi para calon peserta program. Calon peserta diberikan konseling khusus mengenai program bayi tabung, prosedur, biaya, kemungkinan keberhasilan atau kegagalan serta komplikasinya, siap biaya serta siap hamil, melahirkan dan memelihara bayinya.

Tahapan ini dilanjutkan dengan “berburu” sperma dan sel telur untuk dievaluasi kualitasnya. Hanya sperma dan sel telur berkualitas baik dan excellent yang akan digunakan.

Jika pembuahan berlangsung sukses, embrio disimpan dalam inkubator selama 2-3 hari sampai sel-sel embrio berkembang biak. Embrio berkualitas excellent ditransfer dengan cara dimasukkan dalam serviks (leher rahim). “Proses ini biasanya memakan waktu 10 hingga 20 menit diikuti rehat selama satu jam dalam keadaan berbaring,” ujar dr. Wiryawan.

Sebagai bantuan agar embrio melekat pada rahim ibu, menurut embriologis Drs. Harris Harlianto, dapat ditambahkan embryo glue alias lem embrio. “Itu untuk mempermudah proses implantasi,” tuturnya.

Seperti teknologi reproduksi buatan lainnya, program bayi tabung pun tak menjanjikan 100% kehamilan. Pada calon ibu dengan usia kurang dari 39 tahun, tingkat keberhasilannya sekira 30%. Angka tersebut menurun pada usia lebih tua.

Kemungkinan kegagalan tercantum sebagai salah satu klausul persetujuan. Beberapa faktor diketahui dapat menyebabkan kegagalan kehamilan dalam program ini antara lain gagal memperoleh sel telur karena folikel yang berisi sel telur tidak berkembang sewaktu distimulasi, terjadi ovulasi secara prematur atau kesulitan teknis sewaktu ovum pick up.

Kegagalan lainnya, sel telur hasil pick up tidak normal, tidak memperoleh sperma yang dibutuhkan, tidak diperoleh fertilisasi, embrio tidak membelah atau membelah secara abnormal, embrio transfer sulit dilakukan atau tidak memungkinkan, embrio gagal berkembang setelah ditransfer atau implantasi gagal terjadi.

“Artinya, kemungkinan kegagalan bisa berlangsung dalam tahapan mana pun. Oleh karena itu, keseluruhan proses harus dilakukan secara sempurna,” imbuh dr. Tono.

Kesempurnaan tentunya pantas diharapkan mengingat biaya untuk menjalani program bayi tabung masih terbilang tinggi. Di Klinik Fertilitas Aster, total biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 49 juta. Komponen biaya tertinggi adalah obat-obatan pada proses menuju perolehan sel telur.

Biaya tersebut, ujar dr. Tono, termasuk pelayanan ekstra yakni dokumentasi lengkap sejak proses ovum pick-up hingga embrio transfer. Dokumentasi tersebut sangat berguna untuk evaluasi manakala program yang telah dijalani ternyata mengalami kegagalan.

Biaya yang diperlukan dapat bertambah jika ada faktor penyulit, misalnya bila dalam cairan semen ternyata tidak ditemukan sel sperma (azoospermia). Kondisi tersebut memerlukan tindakan operasi yang dilakukan oleh ahli bedah urologi.

Soal pelayanan dan biaya yang ditetapkan di Klinik Fertilitas Aster, dr. Nanang menjamin tidak mengarah ke pencarian keuntungan semata. Besaran biaya, menurutnya, berdasarkan perhitungan unit cost dan sebagian besar digunakan untuk barang habis pakai seperti obat-obatan. “Keberadaan klinik itu sejak awal untuk pelayanan. Jika dihitung, mungkin baru mencapai break even point saja,” ujarnya.

Terlepas dari cukup mahalnya biaya, harapan baru bagi pasutri cukup terbuka lebar. Seperti kegembiraan Ny. Yuli yang menunggu kelahiran bayinya. “Saya sekarang mau periksa, doakan saja ya,” kata Ny. Yuli.

Bayi Tabung

Juni 28, 2007

Saya jadi latah untuk membicarakan topik ini, setelah beberapa hari yang lalu melihat acara sejenis talkshow “kickandy” di Metro TV. Saya jadi tergelitik untuk menulis hal ini dalam versi saya. Setelah sedikit mengintip referensi dari internet, saya dapat menuliskan dan mengambil suatu kesimpulan bahwa bayi tabung atau istilah kedokterannya In Vitro Fertilization (IVF), merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu metode untuk mendapatkan keturunan tetapi tidak melalui proses “hubungan suami istri”. Menarik memang…

Pada proses metode bayi tabung atau IVF, yang dilakukan adalah menyatukan sperma dan ovum di luar rahim yaitu dalam sebuah tabung di laboratorium dimana tabung tersebut dikondisikan sedemikian rupa sehingga menyerupai dengan tempat pembuahannya yang asli yaitu rahim wanita, setelah terjadi pembuahan dan menghasilkan embrio maka embrio tersebut seterusnya di suntikkan ke dalam rahim untuk dibiarkan berkembang, selanjutnya si ibu akan hamil dan kemudian melahirkan seorang bayi, seperti Louis Brown yang terlahir dari proses IVF pada tahun 1978 di Inggris.

Fenomena itu membuka jalan bagi pasutri yang mungkin mengalami kendala dalam pembuahan. Karena dengan adanya metode bayi tabung ini, pasutri yang mempunyai masalah secara medis dapat mempunyai keturunan.
Yang lebih menarik lagi… gagasan mengenai bayi tabung ini sudah dimanfaatkan oleh tahanan di palestina, dimana mereka tidak diizinkan untuk meninggalkan penjara untuk menemui istri mereka, sedangkan mereka ingin mempunyai keturunan, so…apa yang mereka bisa lakukan selain memanfaatkan teknologi ini.
Jadi untuk pasutri yang jarak jauh dimana tidak memungkinkan untuk melakukan hubungan suami istri tetapi menginginkan keturunan dapat menerapkan metode bayi tabung ini :)

Disamping itu, fenomena bayi tabung ini membuat sebagian orang moderat atau liberal yang mempunyai prinsip bahwa perkawinan adalah pengekangan hak, mulai berfikir (atau mungkin sudah melakukan…?) untuk mempunyai keturunan tanpa melewati hubungan suami istri, dimana proses perkawinan bisa dihilangkan atau di delete tetapi tetap dapat mendapatkan keturunan. Prosesnya simple… hanya tinggal ke bank sperma terus memilih metode bayi tabung apa yang akan digunakan, kemudian terjadi kehamilan dan melahirkan seorang bayi, bayi yang lucu…bayi tanpa dosa.
Waaah… kalau seperti ini sudah “membiasa” apa yang terjadi…?? banyak berserakan single parent seantero dunia… dan pasangan lesbi jadi mempunyai solusi untuk mendapatkan keturunan mereka. Peran laki-laki sebagai partner hidup bisa diabaikan secara fisik karena yang diperlukan hanya sperma. Mengerikan sekali yaaa…Tapi kita tidak boleh mengabaikan psikologi anak-anak yang terlahir dari proses “bayi tabung” dengan alasan seperti ini, apakah mereka siap untuk menjalankan kehidupan tanpa pernah mengenal asal muasal mereka??? Bukankah setiap manusia untuk bisa memahami dirinya sendiri harus mengetahui sejarahnya ???

Pendarahan adalah salah satu kejadian yang menakutkan selama kehamilan. Pendarahan ini dapat bervariasi mulai dari jumlah yang sangat kecil (bintik-bintik), sampai pendarahan hebat dengan gumpalan dan kram perut .

Apakah normal mengalami pendarahan pada trimester pertama kehamilan?

Pendarahan pada awal kehamilan tidak selalu Normal, tapi hal ini sering terjadi hampir pada 30% kehamilan. Dan separuh dari wanita yang mengalami pendarahan pada awal kehamilan dapat tetap meneruskan kehamilannya dan melahirkan bayi yang sehat.

Pendarahan dalam jumlah yang sangat sedikit / bintik-bintik pada awal kehamilan bisa merupakan hal yang normal yang disebut sebagai pendarahan karena implantasi embrio pada dinding rahim yang menyebabkan dinding rahim melepaskan sejumlah kecil darah biasanya terjadi sekitar kehamilan minggu ke 7-9 dan hanya terjadi satu atau dua hari saja.

Banyak wanita juga mendapatkan bintik/bercak pendarahan setelah hubungan seksual, atau mengangkat barang yang berat, atau karena aktivitas yang berlebihan hal ini karena servik mengandung lebih banyak pembuluh darah dan pelebaran pembuluh darah selama kehamilan ini. Untuk hal ini batasilah aktivitas anda sampai bercak pendarahan hilang.

Tetapi pendarahan atau bercak pendarahan selama trimester pertama kehamilan ini, dapat juga merupakan tanda ancaman keguguran. Ada dua hal medis yang harus dipertimbangkan ketika terjadi perdarahan pada trimester pertama kehamilan yaitu Keguguran atau Kehamilan Ektopik. Anda kemungkinan mengalami Keguguran jika perdarahan menjadi hebat ( lebih dari 1 gelas), biasanya sering disertai dengan kram perut. Kadang juga disertai keluarnya bekuan darah atau jaringan fetus. Sedangkan gejala untuk kehamilan ektopik adalah pendarahan vagina disertai rasa sakit perut bagian bawah pada satu sisi.

Walaupun, bercak pendarahan (spotting) pada trimester pertama kehamilan adalah hal yang tidak terlalu aneh (sering terjadi pada 30% kehamilan) tapi anda sebaiknya memberitahukan dokter anda tentang hal ini sehingga dokter dapat memonitor dan mengantisipasi komplikasi kehamilan lainnya .

Dan hubungi dokter anda SEGERA jika terjadi pendarahan banyak, kram yang hebat, sakit perut bagian bawah yang terus menerus atau timbul demam/panas tubuh. Semua ini dapat menjadi tanda terjadinya ancaman keguguran atau komplikasi lain seperti kehamilan ektopik.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan Doppler untuk mendengarkan detak jantung janin dan atau USG. Untuk memastikan diagnosa.

Jika anda masih kuatir dan bingung dengan pendarahan yang anda alami ini, ungkapkan apa perasaan dan pikiran anda kepada dokter anda.

Karena kehamilan, persalinan dan mendapatkan seorang bayi adalah salah satu peristiwa indah dan luar biasa dalam hidup anda, jadi binalah komunikasi yang baik dengan dokter anda, sehingga anda memiliki kehamilan dan persalinan yang sehat dan menyenangkan.

Sekarang ini banyak para ibu yang merasa begitu ketakutan untuk melahirkan secara alami atau persalinan melalui vagina. Ketakutan ini sering oleh karena mendengar cerita-cerita yang mengerikan dari kerabat atau teman-teman tentang pengalaman mereka saat melahirkan bayinya secara alami.

Hal ini menyebabkan banyak para calon ibu sekarang ini yang memilih untuk melakukan operasi untuk melahirkan bayinya.

Sebenarnya pengalaman dari setiap orang akan berbeda tergantung siapa dan bagaimana orang itu menanggapi pengalamanya saat persalinan, yang terbaik adalah setiap calon ibu mempersiapkan dirinya dengan pengetahuan dan kesiapan mental bahwa proses ini adalah proses alamiah dimana tubuh kita juga sudah dipersiapkan untuk semua ini, dan tentu saja perlunya dukungan moril dari suami dan juga keluarga.

Sebenarnya melahirkan dengan operasi atau seksio, ditujukan untuk indikasi medis tertentu, yang biasa kita bagi atas indikasi untuk ibu atau indikasi untuk bayi.

Semua indikasi itu adalah berdasarkan keadaan medis dari ibu atau bayi yang memerlukan tindakan melahirkan secara seksio, tetapi sekarang ini menjadi suatu hal baru yang berkembang dalam beberapa kalangan masyarakat, dimana seksio dilakukan bukan karena indikasi medis dari ibu atau bayi, tapi atas dasar permintaan dari calon ibu karena takut melahirkan secara normal/alami.

Apakah proses melahirkan bayi secara alami begitu menakutkan, dan operasi seksio merupakan jalan keluar yang terbaik?.—- Menjadikan seksio sebagai pilihan untuk melahirkan bayi anda, BUKAN atas indikasi medis tertentu ( yang memang memerlukan persalinan melalui operasi) dan hanya atas PERMINTAAN ibu karena takut untuk melahirkan secara alami—Saran yang dapat kita berikan adalah sebaiknya anda mengetahui dahulu segala kebaikan dan kerugian dari Operasi Seksio ini.

Seksio adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan membuka dinding rahim melalui sayatan pada dinding perut. Dari hasil riset para ahli di Amerika Serikat, bahwa melahirkan secara seksio akan memerlukan waktu penyembuhan luka rahim yang lebih lama dari pada persalinan normal.

Ibu yang melahirkan bayi dengan seksio juga dianjurkan untuk tidak mengandung kembali kurang dari 18 bulan dari tindakan seksio, karena mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya robekan rahim, seperti analisa, Dr. Thomas D. Shipp dari Sekolah Kedokteran Harvard di Boston -Massachusetts, AS bersama rekan-rekannya, menurut mereka, perempuan yang melahirkan kembali dalam kurun waktu 18 bulan setelah operasi caesar, kemungkinan rahimnya robek adalah sebesar tiga kali lipat dibandingkan mereka yang menunggu lebih lama sebelum melahirkan kembali. Hal ini karena belum selesainya penyembuhan luka rahim karena operasi seksio pertama.

Dengan kemajuan ilmu kedokteran sekarang ini, seharusnya para calon ibu-orangtua merasa lebih aman untuk melahirkan bayi secara normal/proses alamiah , anda juga tidak perlu kuatir, karena pada proses melahirkan secara normal terdapat suatu mekanisme alami yang memang sudah tersedia secara alami dalam tubuh anda untuk proses kelahiran bayi anda, dan juga saat ini anda dapat berkonsultasi kepada dokter anda tentang cara mengurangi rasa sakit (anestesi), yang dapat diberikan kepada anda.

Yang terpenting dari semuanya adalah kesiapan mental para calon ibu untuk menghadapi proses persalinan ini, dan menyakinkan diri bahwa ini proses persalinan secara normal adalah suatu proses yang alamiah dan terbaik, kecuali tentunya adanya indikasi secara medis yang memang mengharuskan anda menjalani operasi seksio ini. Dan tentu saja dukungan moral dari para suami atau calon ayah ini juga sangat dibutuhkan.

Pada pemeriksaan kehamilan pertama, biasanya dokter menyarankan untuk dilakukan USG. Salah satunya bertujuan melihat kehamilan terjadi di dalam atau di luar kandungan. Hingga, bisa segera ditangani bila kehamilan terjadi di luar kandungan. Soalnya, kehamilan di luar kandungan atau kehamilan ektopik sangat membahayakan nyawa ibu.
Kehamilan ektopik, terang dr. Bambang Fadjar, SpOG dari RS International Bintaro, Tangerang, bisa terjadi di saluran tuba, kornu (tanduk rahim), indung telur, atau justru di dalam perut. Tentunya, dengan makin membesar janin, baik saluran tuba, indung telur, ataupun kornu, bisa pecah dan mengakibatkan perdarahan di dalam perut. “Ini sangat membayakan jika perdarahan sampai tak diketahui.”
KELAINAN SALURAN TUBA
Menurut Bambang, kehamilan ektopik bisa terjadi bila kita punya masalah di saluran tuba, entah berupa penyumbatan atau penyempitan. Saluran tuba merupakan jalan masuk sel telur dan sperma hasil konsepsi (pertemuan sperma dan sel telur).
Kala masa subur, indung telur akan mengeluarkan telur matang ke dalam perut. Nah, bila kita berhubungan, sel sperma akan masuk ke rahim, lalu melewati saluran tuba dan keluar dari fimbrie (ujung luar saluran tuba) ke dalam perut, hingga bertemu sel telur yang matang itu. Hasil konsepsi itu akan masuk kembali ke dalam rahim lewat fimbrie dan saluran tuba, lalu tumbuh dan berkembang di dalam rahim sebagai janin.
Dengan demikian, jika terjadi kelainan di saluran tuba, hasil konsepsi tak bisa masuk ke dalamnya, hingga terjadilah kehamilan di luar rahim. “Bisa saja hasil konsepsi dapat masuk ke saluran tuba tapi tak bisa sampai ke dalam rahim, hingga bercokol di sana dan tumbuh membesar; bisa juga masuk ke dalam indung telur, atau sama sekali tak bisa masuk ke saluran tuba hingga tumbuh di dinding perut.”
Terjadinya penyempitan/ penyumbatan saluran tuba karena memang sejak kecil ada kelainan di saluran tuba atau karena terjadi infeksi seperti infeksi akibat penyakit GO (gonorrhea) ataupun radang panggul.
Tanda-tanda saluran tuba yang terkena infeksi ialah keputihan, tapi keputihannya tak seperti keputihan fisiologis biasa, melainkan disertai rasa sakit atau nyeri di perut, demam, dan dalam jumlah banyak. Bahkan, saking tak tertahankan akan sakitnya, si ibu bisa pingsan.
“Jadi, bila ibu keputihan, harus diyakini betul, apakah keputihannya karena ada infeksi ataukah sekadar fisiologis biasa seperti yang terjadi kala hendak menstruasi,” tegas Bambang. Bila tak yakin, tak ada salahnya untuk berkunjung ke dokter demi memastikannya.
CIRI-CIRI
Kehamilan ektopik tak bisa dideteksi dari luar. Yang jelas, bila 1-2 minggu si ibu telat menstruasinya, terus merasa nyeri di perut bagian bawah, waspadalah. “Selemah-lemahnya tubuh orang hamil muda, tapi tak akan ada nyeri. Nah, jika terasa nyeri sedikit saja di perut bagian bawah perlu waspada. Jangan-jangan ada infeksi di saluran tuba atau bahkan sudah terjadi kehamilan ektopik.”
Nyeri ini terjadi karena kehamilan telah pecah, hingga menimbulkan perdarahan. “Si ibu tak akan tahu kalau ia mengalami perdarahan karena perdarahan itu terjadi di dalam perut. Hingga, yang ia rasakan hanya sakit yang hebat, lemas, sesak, dan tiba-tiba pingsan.”
Memang tak semua kehamilan ektopik akan mengalami perdarahan. Soalnya, kehamilan ektopik ada 2 jenis, yaitu kehamilan ektopik belum terganggu (KEBT) dan kehamilan ektopik terganggu (KET). Pada KEBT, kehamilannya belum sampai pecah dan biasanya si ibu tak merasakan apa-apa.
Sementara pada KET, kehamilan ektopik itu sampai mengakibatkan saluran tuba pecah dan menimbulkan perdarahan. “Di saluran tuba banyak terdapat pembuluh darah. Jadi, saat janin membesar sedikit saja, bisa mengakibatkan saluran itu pecah.”
HARUS DIKELUARKAN
Itulah mengapa, bila diketahui terjadi kehamilan ektopik, meski belum pecah, dokter pasti menyarankan untuk segera dikeluarkan. Sebab, tak ada gunanya janin itu tumbuh di tempat yang bukan tempatnya. Janin juga tak mungkin bisa membesar hingga usia 9 bulan. Baru beberapa minggu saja, “tempat bersarangnya” sudah tak tahan dan pasti akan pecah.
Jika sudah pecah, perdarahan yang terjadi dalam perut bisa hebat. “Ada, lo, yang perdarahannya sampai 2 liter.” Kalau sudah begini, si ibu akan mengalami anemia, pucat, lemas, bahkan bisa pingsan. Sebab, darah yang terkumpul di dalam perut bisa mengakibatkan sesak nafas. Bila perdarahannya dalam tingkat parah dan tak segera ditolong, si ibu bisa meninggal.
Pun jika kehamilan terjadi di dinding perut yang tempatnya relatif lebih lebar. “Memang ada kehamilan ektopik di dalam perut yang bisa sampai membesar hingga janinnya cukup mampu untuk dilahirkan. Namun, tetap saja itu bukan tempat untuk tumbuh kembang bayi, hingga kualitas bayi juga pasti tak bagus.” Selain itu, plasenta bisa menempel di usus perut kita, hingga sangat membahayakan. “Pada si ibu pasti akan timbul keluhan sakit perut yang hebat.”
Bukan berarti bahaya sudah hilang, lo, bila janin sudah dikeluarkan dari dinding perut. “Plasenta yang menempel di usus tak bisa begitu saja diambil. Pasti akan merusak usus kita atau mengakibatkan robek. Jadi, biasanya janinnya dulu dikeluarkan lewat operasi. Beberapa hari kemudian, baru dilakukan operasi kembali untuk mengeluarkan plasenta.” Dengan tak ada janin, berarti tak ada kehidupan, juga buat plasentanya, hingga ia takkan menempel kuat lagi di usus. Dengan demikian, saat diambil sudah tak membahayakan usus lagi.
TETAP WASPADA
Mengingat bahayanya yang besar itulah, pesan Bambang, ibu hamil jangan menolak jika dianjurkan untuk pemeriksaan USG di trimester I. Dengan demikian, bila diketahui terjadi kehamilan ektopik, bisa segera dihentikan kehamilannya atau dikeluarkan janinnya sebelum pecah.
Pada KEBT, penanganan cukup dilakukan dengan suntik pengobatan MTX (methotrexate) yang bisa menyerap hasil konsepsi tanpa merusak saluran tuba atau dinding perut. Selanjutnya akan dipantau lewat USG, kehamilannya bisa menghilang atau tidak. Jika belum terserap sempurna, cara ini akan diulang lagi.
Cara lain, dengan operasi laparoskopi, sejenis operasi besar tapi dengan invasi minimal. Jadi, dinding perut dilubangi sedikit untuk memasukkan alat dan teropong, lalu dilakukan operasi pemotongan janin atau saluran tuba. Pemotongan saluran tuba diusahakan sesedikit mungkin, hingga bisa diperbaiki kembali atau dilakukan tuba plastik (operasi plastik untuk memperbaiki saluran tuba). “Namun bila letak janin tumbuh di tengah atau ujung bagian dalam saluran tuba, biasanya satu saluran tuba itu akan dipotong semua.”
Pada KET, harus segera dilakukan operasi laparotomi, yaitu pembedahan perut. “Darah di perut dikeluarkan dan saluran tuba yang pecah dipotong.”
Meski satu saluran tuba telah dibabat habis, toh, ibu tak usah khawatir dirinya tak bisa hamil lagi. Bukankah saluran tubanya masih ada satu lagi dan indung telurnya masih utuh? Jadi, bila yang kiri dipotong, misal, yang kanan masih tetap berfungsi. Namun dengan syarat, saluran tersebut tak mengalami penyempitan/penyumbatan. Kalau tidak, ya, bisa terjadi kehamilan ektopik lagi.
Saran Bambang, jika ingin hamil lagi dan tak ingin kehamilan ektopik ini terulang, sebaiknya setelah pemotongan saluran tuba, periksalah saluran tuba yang satunya lagi dengan peneropongan HSG (histerosalpingografi) . “Jika ternyata ditemukan kasus yang sama pada saluran tuba satunya lagi, sebaiknya diperbaiki dulu. Infeksinya disembuhkan atau sumbatannya dibuka dengan jalan ditiup. Dengan demikian, kehamilan ektopik takkan terulang.”
Walau begitu, hasil peniupan tetap perlu diwaspadai. Soalnya. saat ditiup, bisa jadi saluran itu membesar. Untuk masuknya sel sperma yang hendak menuju ke dalam perut, mungkin saluran ini cukup. Namun setelah sel sperma bertemu dengan sel telur dan terjadi konsepsi, mungkin ukurannya jadi lebih besar, misal, 4 kali besar sel sperma.
Nah, kala ia hendak masuk lagi ke rahim melalui saluran tuba, saluran yang terbuka hasil ditiup tadi, tetap tak cukup besar untuk dilalui hasil konsepsi ini. Jadilah hasil konsepsi ini tak bisa sampai ke dalam rahim, melainkan hanya sampai di saluran tuba atau bahkan tak bisa masuk sama sekali atau ada di dinding perut.
Kewaspadaan ini juga perlu bagi ibu-ibu yang punya kasus infertility hingga perlu dilakukan peniupan di saluran tubanya. Jangan sampai terjadi kehamilan ektopik.

Apa itu Pil KB ?
Kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dengan cara menelan pil setiap hari secara teratur. Pil KB kombinasi mengandung dua macam hormon yang sama dengan hormon yang ada pada setiap wanita yakni estrogen dan progestin.

Saat ini pil KB mengandung kedua macam hormon dalam kadar yang sangat rendah, sehingga dinamakan “low dose combined oral contraceptives”

Ada dua macam paket pil KB. Beberapa merek mempunyai kemasan 28 pil , yang terdiri dari 21 pil “aktif” yang berisi hormon diikuti oleh 7 pil berbeda warna yang tidak mengandung hormon sebagai pil pelengkap (“reminder pil”) supaya mudah mengingat waktu menelannya. Kemasan lainnya hanya terdiri dari 21 pil aktif , tanpa pil pelengkap.

Bagaimana cara kerja Pil KB ? Pil KB mencegah terjadinya kehamilan dengan cara :

meniadakan ovulasi (pengeluaran telur dari indung telur)

mengentalkan lendir mulut rahim sehingga sperma sulit memasuki rahim Pil KB tidak mengugurkan kehamilan yang telah terjadi.

Bagaimana efektivitasnya ?
Bila dipakai dengan benar dan teratur, kegagalannya sangat kecil yakni 0.1 kehamilan pada 100 wanita pemakai /tahun pertama pemakaian ( 1:1000) Dalam pemakaian sehari-hari karena faktor kesalahan manusia (lupa), maka kegagalannya dapat menjadi 6-8 kehamilan / 100 wanita pemakai / tahun pemakaian. Kesalahan yang sering terjadi adalah lupa menelan pil atau terlambat memulai kemasan yang baru.

Keuntungan Pil KB :

Sangat efektif bila dipakai dengan benar

Tidak mengurangi kenyamanan hubungan suami istri

Menstruasi (Haid) menjadi teratur, lebih sedikit dan lebih singkat waktunya, juga mengurangi rasa nyeri haid.

Dapat dipakai selama diinginkan, tidak harus beristirahat dulu

Dapat dipakai oleh semua wanita usia reproduktif

Dapat dipakai oleh wanita yang belum pernah hamil

Dapat dihentikan pemakaiannya dengan mudah kapan saja

Kesuburan segera kembali setelah pemakaian pil dihentikan

Dapat dipakai sebagai “kontrasepsi emergensi” setelah hubungan suami istri yang “tidak terlindung”

Dapat mencegah anemi akibat kekurangan zat besi

Membantu mencegah terjadinya :
· kehamilan diluar kandungan
· kista ovarium
· kanker endometrium
· tumor jinak payudara
· penyakit radang panggul
· kanker indung telur

Kekurangan Pil KB : Efek sampingnya berupa :

mual (terutama tiga bulan pertama)

perdarahan diantara masa haid (lebih sering perdarahan bercak) , terutama bila lupa menelan pil atau terlambat menelan pil

sakit kepala ringan

nyeri payudara

sedikit meningkatkan berat badan

tidak ada haid

sukar untuk “tidak lupa”

kemasan baru selalu harus tersedia setelah pil kemasan sebelumnya habis

tidak dianjurkan untuk ibu menyusui karena mengganggu jumlah dan kualitas Air Susu Ibu (ASI)

Tidak dapat dipakai oleh perokok berat, atau wanita dengan tekanan darah tinggi terutama pada usia > 35 tahun

Siapa saja yang boleh memakai Pil KB ?
Secara UMUM, kebanyakan wanita dapat memakai Pil KB sebagai cara kontrasepsi secara aman dan efektif, meskipun mereka :

belum mempunyai anak

remaja

gemuk atau kurus

> 35 tahun , tidak merokok

merokok tapi 42 hari (6 minggu) pasca salin dan tidak menyusui, yakinkan dulu bahwa ia tidak hamil

Setelah keguguran :
· mulai pada 7 hari pertama keguguran
· setiap saat asal yakin tidak hamil dan berKB ganda (kondom atau spermisida) selama 7 hari pertama.

Segera setelah berhenti dari Cara KB lain.

Cara pemakaian Pil KB:
Pil ditelan setiap hari secara teratur, dianjurkan agar menelan pil pada malam hari (sebelum tidur, pada saat makan malam) Bila satu pil aktif lupa, telan segera setelah ingat, minum pil yang seharusnya pada saat biasa menelan pil

PIL KB Untuk Ibu menyusui
Hanya ada 1 macam pil KB yang dibuat untuk ibu menyusui yakni minipil (progesteron only) , tidak mengandung estrogen. Pil ini mempunyai efek KB seperti suntikan KB karena tidak mengendung estrogen, sehingga tidak mengganggu laktasi baik kualitas maupun kuantitas ASI (air susu ibu). Nama dagang yang tersedia di Indonesia : Excluton

Ada tiga faktor yang mempengaruhi kehamilan, yaitu faktor fisik, faktor psikologis dan faktor sosial budaya dan ekonomi.

Faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu tersebut. Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah bersalin, atau poliklinik kebidanan. Adapun tujuan dari pemeriksaan kehamilan yang disebut dengan Ante Natal Care (ANC) tersebut adalah :

Memantau kemajuan kehamilan. Dengan demikian kesehatan ibu dan janin pun dapat dipastikan keadaannya.

Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, karena dalam melakukan pemeriksaan kehamilan, petugas kesehatan (bidan atau dokter) akan selalu memberikan saran dan informasi yang sangat berguna bagi ibu dan janinnya

Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan dengan melakukan pemeriksaan pada ibu hamil dan janinnya

Mempersiapkan ibu agar dapat melahirkan dengan selamat. Dengan mengenali kelainan secara dini, memberikan informasi yang tepat tentang kehamilan dan persalinan pada ibu hamil, maka persalinan diharapkan dapat berjalan dengan lancar, seperti yang diharapkan semua pihak

Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal. Jika kehamilan dan persalinan dapat berjalan dengan lancar, maka diharapkan masa nifas pun dapar berjalan dengan lancar

Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima bayi. Bahwa salah satu faktor kesiapan dalam menerima bayi adalah jika ibu dalam keadaan sehat setelah melahirkan tanpa kekurangan suatu apa pun

Karena manfaat memeriksakan kehamilan sangat besar, maka dianjurkan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Selain itu status gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buruk bagi si ibu dan janinnya. Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat, sehingga janin akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata dapat berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan tumbuh besar melebihi berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat proses persalinan.

Yang harus diperhatikan adalah ibu hamil harus banyak mengkonsumsi makanan kaya serat, protein (tidak harus selalu protein hewani seperti daging atau ikan, protein nabati seperti tahu, tempe sangat baik untuk dikonsumsi) banyak minum air putih dan mengurangi garam atau makanan yang terlalu asin.

Faktor Psikologis yang turut mempengaruhi kehamilan biasanya terdiri dari :

Stressor. Stress yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stress pada ibu tidak tertangani dengan baik.

Dukungan keluarga juga merupakan andil yang besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan, mendukung bahkan memperlihatkan dukungannya dalam berbagai hal, maka ibu hamil akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan, persalinan dan masa nifas.

Yang terakhir adalah Faktor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi. Faktor ini mempengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup, adat istiadat, fasilitas kesehatan dan tentu saja ekonomi. Gaya hidup sehat adalah gaya hidup yang digunakan ibu hamil. Seorang ibu hamil sebaiknya tidak merokok, bahkan kalau perlu selalu menghindari asap rokok, kapan dan dimana pun ia berada. Perilaku makan juga harus diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan adat istiadat. Jika ada makanan yang dipantang adat padahal baik untuk gizi ibu hamil, maka sebaiknya tetap dikonsumsi. Demikian juga sebaliknya. Yang tak kalah penting adalah personal hygiene. Ibu hamil harus selalu menjaga kebersihan dirinya, mengganti pakaian dalamnya setiap kali terasa lembab, menggunakan bra yang menunjang payudara, dan pakaian yang menyerap keringat.

Ekonomi juga selalu menjadi faktor penentu dalam proses kehamilan yang sehat. Keluarga dengan ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin, merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik. Namun dengan adanya perencanaan yang baik sejak awal, membuat tabungan bersalin, maka kehamilan dan proses persalinan dapat berjalan dengan baik.

Yang patut diperhatikan adalah bahwa kehamilan bukanlah suatu keadaan patologis yang berbahaya. Kehamilan merupakan proses fisiologis yang akan dialami oleh wanita usia subur yang telah berhubungan seksual. Dengan demikian kehamilan harus disambut dan dipersiapkan sedemikian rupa agar dapat dilalui dengan aman.

Bedah caesar

Juni 28, 2007

Bedah caesar (bahasa Inggris: caesarean section atau cesarean section dalam Inggris-Amerika), disebut juga dengan c-section (disingkat dengan cs) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko kepada komplikasi medis lainnya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anastesi serta bidan.

Bedah caesar teknik vertikalDaftar isi [sembunyikan]
1 Etimologi
2 Jenis
3 Indikasi
4 Resiko
5 Prevalensi
6 Anastesis
7 Persalinan normal setelah bedah caesar
8 Sejarah
9 Referensi
10 Pranala luar
11 Rujukan

[sunting] Etimologi
Ada beberapa unsur yang dapat menjelaskan asal kata “caesar”.

Istilah dapat diambil dari kata kerja bahasa Latin caedere yang berarti “membedah”. Dengan demikian “bedah caesar” menjadi gaya bahasa retoris.
Istilah yang mungkin diambil dari pemimpin Romawi kuno Julius Caesar yang disebut-sebut dilahirkan dengan metode tersebut. Dalam sejarah, hal ini sangat tidak memungkinkan karena ibunya masih hidup ketika ia mencapai usia dewasa (bedah caesar tidak mungkin dilakukan pada masa tersebut terkait dengan teknologi yang tidak mendukung), tetapi legenda tersebut telah bertahan sejak abad ke-2 SM.
Hukum Romawi yang menjelaskan bahwa prosedur tersebut perlu dilakukan pada ibu hamil yang meninggal untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Hal ini dikenal dengan istilah lex caesarea, sehingga hukum Romawi mungkin menjadi asal usul istilah ini.
Secara umum, istilah “bedah caesar” merupakan gabungan dari hal-hal tersebut di atas. Kata kerja caedo dalam kalimat a matre caesus (“membedah ibunya”) digunakan pada masa Romawi untuk mendeskripsikan operasi tersebut.

[sunting] Jenis

Sebuah operasi caesar sedang dalam proses.Ada beberapa jenis “caesarean sections” (CS):

Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan hari ini karena sangat beresiko terhadap terjadinya komplikasi.
Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan resiko terjadinya pendarahan dan cepat penyembuhannya.
Histerektomi caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pendarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.
Bentuk lain dari bedah caesar seperti extraperitoneal CS atau Porro CS.
Bedah caesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya telah pernah menjalan bedah caesar. Umumnya sayatan dilakukan pada bekas luka operasi sebelumnya.
Di berbagai rumah sakit, khususnya di Amerika Serikat, Britania Raya, Australia dan Selandia Baru, sang suami disarankan untuk turut serta pada proses pembedahan untuk mendukung sang ibu. Dokter spesialis anastesis umumnya akan menurunkan kain penghalang ketika si bayi dilahirkan agar orang tua si bayi dapat melihat bayinya. Rumah sakit di Indonesia umumnya tidak memperbolehkan adanya orang lain turut serta waktu persalinan dengan bedah caesar termasuk sang suami.

[sunting] Indikasi

Seorang bayi ketika dilahirkan melalui bedah caesarDokter spesialis kebidanan akan menyarankan bedah caesar ketika proses kelahiran melalui vagina kemungkinan akan menyebabkan resiko kepada sang ibu atau si bayi. Hal-hal lainnya yang dapat menjadi pertimbangan disarankannya bedah caesar antara lain:

proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (dystosia)
detak jantung janin melambat (fetal distress)
adanya kelelahan persalinan
komplikasi pre-eklampsia
sang ibu menderita herpes
putusnya tali pusar
resiko luka parah pada rahim
persalinan kembar (masih dalam kontroversi)
sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping
kegagalan persalinan dengan induksi
kegagalan persalinan dengan alat bantu (forceps atau ventouse)
bayi besar (makrosomia – berat badan lahir lebih dari 4,2 kg)
masalah plasenta seperti plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), placental abruption atau placenta accreta)
kontraksi pada pinggul
sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi)
sebelumnya pernah mengalami masalah pada penyembuhan perineum (oleh proses persalinan sebelumnya atau penyakit Crohn)
angka d-dimer tinggi bagi ibu hamil yang menderita sindrom antibodi antifosfolipid
CPD atau cephalo pelvic disproportion (proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat)
Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal (hidrosefalus)
Ibu menderita hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi)
Harap diingat bahwa institusi yang berbeda dapat memiliki pendapat yang berbeda pula mengenai kapan suatu bedah caesar dibutuhkan. Di Britania Raya, hukum menyatakan bahwa ibu hamil mempunyai hak untuk menolak tindakan medis apapun termasuk bedah caesar walaupun keputusan tersebut beresiko terhadap kematiannya atau nyawa sang bayi. Negara lain memiliki hukum yang berbeda mengenai hal ini. Lihat pula mengenai bedah caesar berdasarkan permintaan.

[sunting] Resiko

Metode sayatan mendatarData statistik dari 1990-an menyebutkan bahwa kurang dari 1 kematian dari 2.500 yang menjalani bedah caesar, dibandingkan dengan 1 dari 10.000 untuk persalinan normal [1]. Akan tetapi angka kematian untuk kedua proses persalinan tersebut terus menurun sekarang ini. Badan kesehatan Britania Raya menyebutkan resiko kematian ibu yang menjalani bedah caesar adalah tiga kali resiko kematian ketika menjalani persalinan normal [2]. Akan tetapi, adalah tidak mungkin untuk membandingkan secara langsung tingkat kematian proses persalinan normal dan proses persalinan dengan bedah caesar karena ibu yang menjalani pembedahan adalah mereka yang memang sudah beresiko dalam kehamilan.

Bayi yang lahir dengan persalinan bedah caesar seringkali mengalami masalah bernafas untuk pertama kalinya. Sering pula sang bayi menjadi ngantuk dikarenakan obat penangkal nyeri yang diberikan kepada sang ibu.

[sunting] Prevalensi
Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang dibandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat. Kanada pada 2003 memiliki angka 21%.

Berbagai pertimbangan mengemuka akhir-akhir ini mengingat proses bedah caesar yang seringkali dilakukan bukan karena alasan medis. Berbagai kritik pula mengemuka karena bedah caesar yang disebut-sebut lebih menguntungkan rumah sakit atau karena bedah caesar lebih mudah dan lebih singkat waktu prosesnya oleh dokter spesialis kandungan. Kritik lainnya diberikan terhadap mereka yang meminta proser bedah caesar karena tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal.

[sunting] Anastesis

Sang ibu tetap dalam keadaan sadar waktu bayinya dilahirkanSang ibu umumnya akan diberikan anastesi lokal (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.

Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah caesar menjadi semakin jarang dilakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus beresiko tinggi atau kasus darurat.

[sunting] Persalinan normal setelah bedah caesar
Persalinan normal setelah bedah caesar adalah umum dilakukan pada masa sekarang ini. Di waktu lalu, bedah caesar dilakukan dengan sayatan vertikal sehingga memotong otot-otot rahim. Bedah caesar sekarang ini umumnya melalui sayatan mendatar pada otot rahim sehingga rahim lebih terjaga kekuatannya dan dapat menghadapi kontraksi kuat pada persalinan normal berikutnya. Luka bekas sayatan pada bedah caesar sekarang ini adalah terletak di bawah “garis bikini”.

[sunting] Sejarah

Bedah caesar dilakukan di Kahura, Uganda. Sebagaimana diamati oleh R. W. Felkin tahun 1879.Pada 1316, Robert II dari Skotlandia dilahirkan dengan bedah caesar, ibunya Marjorie Bruce, kemudian meninggal. Bukti pertama mengenai ibu yang selamat dari bedah caesar adalah di Siegershausen, Swiss tahun 1500: Jacob Nufer, seorang pedagang babi, harus membedah istrinya setelah proses persalinan yang lama. Prosedur bedah caesar di waktu lampau mempunyai angka kematian yang tinggi. Di Britania Raya dan Irlandia, angka kematian akibat bedah caesar pada 1865 adalah 85%. Beberapa penemuan yang membantu menurunkan angka kematian antara lain:

Pengembangan prinsip-prinsip asepsis.
Pengenalan prosedur penjahitan rahim oleh Max Sänger pada 1882.
Extraperitoneal CS dilanjutkan dengan sayatan mendatar rendah (Krönig, 1912).
Perkembangan teknik anestesi.
Transfusi darah.
Antibiotik.
Pada 5 Maret 2000, Inés Ramírez melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri dan berhasil mempertahankan nyawanya dan juga bayinya, Orlando Ruiz Ramírez. Ia dipercaya sebagai satu-satunya wanita yang melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri.

[sunting] Referensi
Williams Obstetrics. Edisi ke-14. Appleton Century-Crofts, New York, 1971, halaman 1163-1190.

[sunting] Pranala luar
(id) Operasi Caesar: Bersenang-senang Dulu, Bersakit-sakit Kemudian?
(en) Caesareans and VBACs FAQ
(en) C-section recovery
(en) VBAC Backlash
(en) “Medlineplus about Cesareans”
(en) Procedures: Caesarean section

[sunting] Rujukan
^ Risks of Cesarean Section
^ Caesarean section
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Bedah_caesar”

Pendarahan adalah salah satu kejadian yang menakutkan selama kehamilan—Apakah normal mengalami pendarahan pada trimester pertama kehamilan?

Pendarahan adalah salah satu kejadian yang menakutkan selama kehamilan. Pendarahan ini dapat bervariasi mulai dari jumlah yang sangat kecil (bintik-bintik), sampai pendarahan hebat dengan gumpalan dan kram perut .

Apakah normal mengalami pendarahan pada trimester pertama kehamilan?

Pendarahan pada awal kehamilan tidak selalu Normal, tapi hal ini sering terjadi hampir pada 30% kehamilan. Dan separuh dari wanita yang mengalami pendarahan pada awal kehamilan dapat tetap meneruskan kehamilannya dan melahirkan bayi yang sehat.

Pendarahan dalam jumlah yang sangat sedikit / bintik-bintik pada awal kehamilan bisa merupakan hal yang normal yang disebut sebagai pendarahan karena implantasi embrio pada dinding rahim yang menyebabkan dinding rahim melepaskan sejumlah kecil darah biasanya terjadi sekitar kehamilan minggu ke 7-9 dan hanya terjadi satu atau dua hari saja.

Banyak wanita juga mendapatkan bintik/bercak pendarahan setelah hubungan seksual, atau mengangkat barang yang berat, atau karena aktivitas yang berlebihan hal ini karena servik mengandung lebih banyak pembuluh darah dan pelebaran pembuluh darah selama kehamilan ini. Untuk hal ini batasilah aktivitas anda sampai bercak pendarahan hilang.

Tetapi pendarahan atau bercak pendarahan selama trimester pertama kehamilan ini, dapat juga merupakan tanda ancaman keguguran. Ada dua hal medis yang harus dipertimbangkan ketika terjadi perdarahan pada trimester pertama kehamilan yaitu Keguguran atau Kehamilan Ektopik. Anda kemungkinan mengalami Keguguran jika perdarahan menjadi hebat ( lebih dari 1 gelas), biasanya sering disertai dengan kram perut. Kadang juga disertai keluarnya bekuan darah atau jaringan fetus. Sedangkan gejala untuk kehamilan ektopik adalah pendarahan vagina disertai rasa sakit perut bagian bawah pada satu sisi.

Walaupun, bercak pendarahan (spotting) pada trimester pertama kehamilan adalah hal yang tidak terlalu aneh (sering terjadi pada 30% kehamilan) tapi anda sebaiknya memberitahukan dokter anda tentang hal ini sehingga dokter dapat memonitor dan mengantisipasi komplikasi kehamilan lainnya .

Dan hubungi dokter anda SEGERA jika terjadi pendarahan banyak, kram yang hebat, sakit perut bagian bawah yang terus menerus atau timbul demam/panas tubuh. Semua ini dapat menjadi tanda terjadinya ancaman keguguran atau komplikasi lain seperti kehamilan ektopik.

Biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan Doppler untuk mendengarkan detak jantung janin dan atau USG. Untuk memastikan diagnosa.

Jika anda masih kuatir dan bingung dengan pendarahan yang anda alami ini, ungkapkan apa perasaan dan pikiran anda kepada dokter anda.

Karena kehamilan, persalinan dan mendapatkan seorang bayi adalah salah satu peristiwa indah dan luar biasa dalam hidup anda, jadi binalah komunikasi yang baik dengan dokter anda, sehingga anda memiliki kehamilan dan persalinan yang sehat dan menyenangkan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.